Tradisi Megibung dan Ngaminang: Perpaduan Satu Cita Rasa dalam Keberagaman Masyarakat di Bali

Tradisi megibung setelah upacara adat di Desa Bungaya Kangin, Karangasem, Bali
Dokumentasi: Dayu Paramitha

Ketika berbicara mengenai budaya Indonesia, maka yang tersirat adalah bagaimana bergamnya budaya tersebut. Keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia dari sabang hingga merauke memiliki ciri khasnya masing-masing.

Salah satu budaya yang menjadi ciri khas di masyarakat Indonesia adalah tradisi. Hal ini didasarkan dari kebiasaan dan adat turun-temurun dari masyarakat Indonesia di setiap daerah. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tradisi turun-temurun adalah Bali. Selain terkenal dengan keindahan alam dan tradisinya yang masih sakral, masyarakat Bali juga memiliki berbagai tradisi unik dan sarat akan makna. 

Megibung, merupakan tradisi masyarakat Bali yang sudah terlaksana secara turun-temurun dan masih eksis hingga sekarang. Secara etimologis, megibung berasal dari kata 'gibung' yang berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang dengan berbagi antara satu sama lain.

Kemudian kata 'gibung' tersebut diberi awalan me-, menjadi megibung. Tradisi megibung ini diartikan sebagai suatu kegiatan duduk dan makan bersama dalam satu wadah untuk saling berdiskusi dan berbagi pendapat. 

Secara filosofis, tujuan dari megibung ini adalah kebersamaan tanpa strata dan status sosial–karena seperti yang diketahui, Bali masih sarat akan tingkatan wangsa.

Tradisi megibung sesungguhnya berasal dari Karangasem yang merupakan salah satu kabupaten bagian timur Pulau Bali. Tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan di Bali. Menurut sejarah, tradisi ini terjadi karena Raja Karangasem saat itu berperang dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Sasak (Lombok).

Kemudian saat para prajurit sedang istirahat makan, sang raja membuat aturan untuk makan bersama dengan posisi melingkar dan ikut makan bersama para prajurit lainnya. Sejarah ini lah yang kemudian melanggengkan tradisi megibung di Karangasem.

Adapun makanan yang disajikan pada saat megibung adalah nasi dan sate. Sebagai lauk yang khusus, sate yang jumlahnya sembilan tusuk melambangkan sembilan arah mata angin yang dipercaya oleh masyarakat Hindu Bali sebagai dewa-dewa yang menjaga penjuru Bali.

Terdapat pula etika makan yang harus dilakukan yaitu, harus mencuci tangan terlebih dahulu, tidak boleh menjatuhkan makanan dari suapan, tidak boleh mengambil makanan teman di sebelah, dan ketika sudah merasa kenyang dan selesai makan tidak boleh meninggalkan tempat dan temannya.

Saat ini, tradisi tersebut menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat Karangasem setelah melaksanakan upacara adat. Tidak hanya di Karangasem saja, daerah-daerah lain juga memiliki tradisi megibung meskipun dengan sebutan yang lain.

Di masa sekarang, megibung dilakukan dengan lebih praktis dengan menggunakan alat makan yang sering dijumpai sekarang dan esensinya tetap sama, yaitu kebersamaan.

Di sisi lain, tidak hanya masyarakat Hindu Bali saja yang memiliki tradisi megibung. Masyarakat lainnya, seperti masyarakat Muslim di Bali juga memiliki tradisi megibung. Salah satunya terdapat di Desa Gelgel, Klungkung yang merupakan Kampung Muslim tertua di Bali.

Masyarakat di sana terbiasa menamakan tradisi megibung dengan sebutan ngaminang. Tradisi ini biasanya terlaksana di bulan ramadhan. Adapun yang membuat tradisi ini unik adalah berbuka puasa dengan masyarakat lintas umat beragama. Hal ini sudah dilakukan secara turun-temurun demi menjaga kebersamaan dalam keberagaman mengingat di Desa Gelgel tidak hanya dihuni oleh umat muslim saja.



Adapun yang membedakan antara megibung dan ngaminang adalah wadah makananya. Jika megibung menggunakan daun pisang atau kertas nasi, tradisi ngaminang menggunakan wadah berupa sagi yang masing-masing berisi nasi beserta lauk-pauknya.

Esensinya tetap sama, yaitu kebersamaan dalam satu cita rasa dari makanan yang tersaji dengan duduk melingkar. Tradisi yang awalnya berlangsung untuk menjaga persaudaraan antara keluarga Puri Klungkung dan umat Muslim di Kampung Gelgel.

Kemudian tradisi ini rutin dilakukan setiap tahunnya dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang agama dan biasanya terlaksana di sebuah masjid. Masyarakat muslim di Kampung Gelgel juga tidak menyediakan masakan dengan daging sapi mengingat umat Hindu tidak mengonsumsi makanan tersebut.

Makanan yang tersaji dalam tradisi megibung dan ngaminang bukanlah masakan yang mewah, namun siapa sangka, masakan sederhana dalam satu wadah tersebut dapat mempererat persatuan tanpa memandang strata sosial dan agama.

Kebersamaan dalam megibung dan ngaminang merupakan tradisi yang patut dilestarikan demi menjaga toleransi dan persatuan bangsa. Makan bersama dengan satu cita rasa dalam satu wadah ini menciptakan pembicaraan yang hangat, diskusi yang terbuka, serta kebersamaan dalam keberagaman.

Seperti itulah Indonesia, seusai dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika, “Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua”. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan keberagamannya di penjuru sabang sampai merauke.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Megibung dan Ngaminang. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Ni Putu Laksmi Mutiara Prameswari ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

51 Responses to "Tradisi Megibung dan Ngaminang: Perpaduan Satu Cita Rasa dalam Keberagaman Masyarakat di Bali"

  1. Cukup menarik, budaya seperti ini patut dilestatikan, tidak terlepas dari nilai filosofinya...

    BalasHapus
  2. Cukup menarik, budaya seperti ini patut dilestatikan, tidak terlepas dari nilai filosofinya...

    BalasHapus
  3. Tulisan yang menarik. Makan dan duduk bersama memang tempat yang tepat untuk kebersamaan

    BalasHapus
  4. Baca tulisan Ames sambil ngopi Di pagi Hari....syaluttt Ames keren...

    BalasHapus
  5. Wah baru ini aku tau ada yg namanya tradisi ngaminang, keren" tulisannya ��

    BalasHapus
  6. Sangatt bermanfaat dan menarik tulisannya

    BalasHapus
  7. Tulisan menarik dan padat informasinya

    BalasHapus
  8. Wah mantap sekali tulisannya. Menambah pengetahuan akan budaya yang kental di Bali

    BalasHapus
  9. Wah bisa juga nih buat refrensi berkehidupan yang penuh toleransi. Apalagi diera sekarang yang katanya krisis toleransi, fenomena seperti ini bisa jd oase bagi kehidupan krisis masa kini

    BalasHapus
  10. Tulisan yang sangat menarik.terima kasih sudah menjelaskan ke 2 tradisi ini sehingga mengetahuinya lebih jelas karena sebelumnya hanya mendengar tradisi tersebut.

    BalasHapus
  11. Tradisi yang sangat unik yang harus tetap dilestarikan. Semoga bisa dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Bali

    BalasHapus
  12. Deep,full meaning..wisdom n unity
    Great culture

    BalasHapus
  13. Tulisan sangat menarik tentang budaya bali terkandung filosofi n etika...semoga muncul lg tulisan2 Ames tentang budaya bali...terus berkarya Ames

    BalasHapus
  14. sangat menarik tulisannya yang membahas tradisi megibung yang terkandung esensi kebersamaan. terus berkarya kak ames

    BalasHapus
  15. Artikel yang bagus menunjukan bahwa kebudayaan bisa dapudakan dengan agama jika di kelola oleh kelompok yang memiliki prinsip cinta kasih dan kedamaian semoga bisa di contoh oleh kota" lain yang ada di indonesia

    BalasHapus
  16. Artikel yang bagus menunjukan bahwa kebudayaan bisa dapudakan dengan agama jika di kelola oleh kelompok yang memiliki prinsip cinta kasih dan kedamaian semoga bisa di contoh oleh kota" lain yang ada di indonesia

    BalasHapus
  17. Bagus teruskan bakat menulisnya

    BalasHapus
  18. Artikelnya bagus bgt buat menambah wawasan��������

    BalasHapus
  19. Mantap sekai tulisannya apa bila dilihat dari feno mena belakangan ini

    BalasHapus
  20. Artikel yang menarik membahas tradisi masyarakat Bali terutama dari sejarahnya yang ternyata berasal dari usulan Raja yang saya rasa sangat merakyat dan dihormati pada zamannya
    Budaya makan bersama merupakan salah satu cara yg ampuh untuk mempererat kebersamaan��

    BalasHapus
  21. Artikel yang sangat menarik karena menceritakan kehidupan di Bali yang jarang diketahui oleh orang yang berada di luar Bali, keren sekali semoga artikel2 seperti ini akan lebih banyak mengilhami masyarakat luar mengenai kehidupan di Bali.

    BalasHapus
  22. Tulisan menarik untuk menambah wawasan����

    BalasHapus
  23. Keren sekali ... Bertambah sekarang wawasanku

    BalasHapus
  24. Sepenggal crita tentang keunikan yg dimiliki bangsa Indonesia, critanya bagus gampang dipahami dan mengajarkan Kita untuk selalu menghargai kebudayaan yang lebih berhaga dari harta benda. Semangat terus bekarya ya!

    BalasHapus
  25. Cuma pernah denger tp gak tau arti nya. Pas baca artikel nya ini baru ngerti.

    BalasHapus
  26. Adem banget bacanya, perbedaan yang menyatukan keberagaman.

    BalasHapus
  27. Cukup menarik melihat indonesia merupakan negara yg serba multi, dan pas saya kkn di tenganan karangasem saya sangat suka saat sesi megibung, dari sana saya dapat makna kebersamaan yg haqiqi.

    BalasHapus
  28. Sangat menambah wawasan kita tentang budaya yang terdapat di Pulau Dewata ini

    BalasHapus
  29. Artikel yang menarik membahas tentang budaya Bali tentang keberagaman

    BalasHapus
  30. Bisa dijadikan contoh utk daerah lain bahwa tradisi ada selain warisan lelulur juga utk mempererat persaudaraan dan kekeluargaan

    BalasHapus
  31. Wah, ternyata Bali bisa jadi representatif toleransi dan keberagaman di Indonesia ya. Menarik!

    BalasHapus
  32. Mantap kali, informatif dan rapi

    BalasHapus
  33. Artikel yang bagus, cara penyampaiannya juga enak di baca

    BalasHapus
  34. Tulisannya sangat menarik, perlu dikembangkan lagi😍

    BalasHapus
  35. Artikel ini sangat memikiki potensi guna melihat keragaman budaya yang indonesia miliki khususnya di pulau Bali. Indahnya melihat kebersamaan seperti kawan2 di desa gelgel, klungkung

    BalasHapus
  36. Terima kasih semua sudah ikut menyimak!

    BalasHapus
  37. Menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, terimakasih kakaknya��

    BalasHapus
  38. Menambah pengetahuan tentang kearifan lokal, terimakasih kakaknya��

    BalasHapus
  39. Dua tiga buah rambutan, artikelnya sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  40. saipa kita! INDONESIA! kita punya budaya dan tradisi yang berbeda, kita punya agama yang berbeda suku yang berbeda dan banyak juga perbedaan yang lain,masyarakat yang diceritakan dalam artikel ini, betul-betul menggabarkan perbedaan bukan menjadi masalah, tapi perbedaan itu memberikan suatu nilai seni yang sangat indah.

    BalasHapus
  41. dengan syarat yang tergolong mudah bisa menciptakan suasana dalam masyarakat yang tidak mendiskriminasi. sekali lagi, masih ada bukti bahwa negeri ini tidak kekurangan orang toleran

    BalasHapus
  42. Saya tidak baca tulisan ames, tapi saya. Aca comment netizen. Memang mantaps

    BalasHapus
  43. Tulisan yang bagus sekali untuk menyebarkan toleransi dan keberagamaan

    BalasHapus
  44. Seperti yang kita ketahui, Indonesia terdiri dari beragam budaya. Semoga dengan tulisan ini selanjutnya dapat melahirkan tulisan lain yang menekankan keberagaman di seluruh Indonesia

    BalasHapus
  45. Artikel yang menarik, memberikan pengetahuan dan informasi baru mengenai budaya dan tradisi yang terdapat di Bali. Tulisan ini menunjukan bahwa perbedaan seharusnya dapat dihadapi dengan sikap toleransi. Pada nyatanya kehidupan bermasyarakat utamanya di Indonesia tidak dapat terlepas dari perbedaan.

    BalasHapus
  46. Memang kegiatan menyantap makanan bersama-sama dengan orang lain seperti ini sangat bisa menciptakan kebersamaan, akan timbul banyak perbincangan serta pertukaran pikiran dan pendapat di dalamnya. Apalagi dilakukan bersama teman-teman dengan latar belakang yang berbeda. Semoga dengan artikel ini, masyarakat khususnya warga Indonesia menjadi sadar dan tetap mempertahankan tradisinya melalui keberagaman yang unik di Indonesia.
    #Indonesiasatu

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel