Rewang : Membangun Fondasi Dalam Tradisi


Budaya atau kebudayaan memiliki banyak definisi, tetapi pada intinya memiliki pengertian: hasil penciptaan manusia yang dapat diwariskan untuk digunakan sebagai cara hidup atau pedoman dalam menjalani kehidupannya.

Setiap masyarakat yang hidup di lingkungan sosial membangun sistem budayanya sendiri, sehingga tercipta keanekaragaman budaya antara satu daerah dengan daerah yang lain. Adapun suku Jawa sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia yang mayoritas tinggal di daerah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, secara tidak langsung terjadi diversifikasi budaya Jawa sehingga yang pada mulanya sama, menjadi memiliki ciri khas masing-masing.

Namun, tetap ada beberapa tradisi atau kebiasaan yang masih tetap sama di tiap daerahnya dan terus diwariskan. Tradisi sendiri artinya peninggalan dari masa ke masa yang cara menyalurkannya dengan diwariskan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi merupakan bagian dari budaya. Salah satu tradisi yang masih sama dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh suku Jawa adalah rewang.

Rewang, dalam bahasa Jawa berarti membantu. Secara garis besar rewang dapat diartikan sebagai prosesi membantu kerabat yang sedang mengadakan acara hajatan, pesta pernikahan, pengajian, peringatan kematian, maupun perhelatan lainnya.

Pada umumnya, orang yang melakukan rewang ikut turun tangan dalam mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan perhelatan tersebut, seperti menyiapkan makanan, menyusun tempat, membagi undangan, dan lain sebagainya.

Terlaksananya tradisi rewang murni berasal dari kesadaran masyarakat untuk membantu kerabat dengan menunjukkan dukungan berupa partisipasi aktif, yang bertujuan salah satunya menguatkan ikatan sosial.

Selain itu, masyarakat Jawa percaya dengan membantu orang lain yang artinya memudahkan urusan orang lain, maka ketika mereka juga akan memiliki urusan, mereka-pun akan dibantu atau dimudahkan dalam melaksanakannya.

Tradisi rewang identik dengan aktivitas ibu-ibu yang membantu menyiapkan hidangan pada kenduri atau perjamuan makan dalam hajatan, tetapi sebenarnya wujud tradisi rewang bermacam-macam dan dapat dibedakan sebagai berikut:


  1. Sinom yaitu rewang yang dilakukan oleh laki-laki saja. Biasanya aktivitas yang dilakukan adalah memasang tenda pada perhelatan yang dilakukan di ruang terbuka.
  2. Biyadha yaitu rewang yang dilakukan oleh perempuan, baik dari kalangan gadis muda maupun ibu-ibu. Biyadha merupakan sebutan bagi pelaku yang melakukan aktivitas menyiapkan hidangan di pawon untuk keduri.
  3. Rewang buruh pada umumnya dilakukan dari kalangan petani atau peternak, yang kegiatan seputar pekerjaan kasar di pawon.
  4. Rewang sedherek yaitu tetangga sekitar tuan rumah yang mengadakan acara hajatan. Lain halnya dengan rewang sedhulur, yaitu orang-orang yang ikut membantu menyiapkan acara yang merupakan kerluarga pemilik acara (Alvy, 2017)


Dewasa ini, tradisi rewang mulai kehilangan eksistensinya di dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan. Masyarakat Jawa yang tinggal di daerah perkotaan lebih memilih untuk mengandalkan jasa Event Organizer dalam mengurus perhelatan, karena selain praktis, terbangun pula rasa pekewuh dalam diri mereka.

Pekewuh merupakan rasa tidak enak hati, dan ketidaknyamanan untuk menganggu orang lain. Selain itu, kaum muda juga mulai enggan meneruskan tradisi ini, dan munculnya perspektif baru di kalangan orang tua bahwa kaum muda tidak bisa berbuat apa-apa di pawon, sehingga sebaiknya mereka tidak perlu diikutsertakan dalam rewang.

Padahal, banyak sekali nilai positif yang terbangun dari adanya tradisi rewang. Rewang juga merupakan bentuk gotong royong yang sejatinya adalah perwujudan dari sila ke-tiga dari Pancasila—yang berbunyi “persatuan Indonesia”.

Semangat solidaritas ditunjukkan dalam tradisi ini dengan dengan adanya kesediaan tiap-tiap individu untuk mengorbankan waktu, materi, dan tenaga demi kelancaran acara—bahkan mereka tidak segan-segan untuk meluangkan waktu kerja atau rutinitas sehari-hari.

Sanak saudara akan datang bahkan dari tempat yang jauh sekalipun untuk tetap mengikat simpul tali silaturahmi. Sang pemilik acara, menunjukkan gratitude-nya biasanya dengan memberikan hidangan kepada pelaku rewang yang dibungkus untuk dibawa pulang. Rewang juga tidak mengenal adanya perbedaan status sosial—semua saling bantu-membantu dan mengakrabkan diri dalam prosenya.

Budaya inilah yang dapat membentuk fondasi kuat dalam membangun dan menjaga integrasi sosial di lingkungan masyarakat. Tradisi rewang tidak hanya bermakna sebagai ‘upaya dalam menyukseskan perhelatan’, tetapi juga budaya yang mampu mengeratkan hubungan antar masyarakat dengan mengutamakan rasa ikhlas dan rela berkorban.

Di tengah maraknya pergeseran budaya karena adanya arus globalisasi, masyarakat Jawa diharapkan bisa terus menjaga tradisi rewang, karena begitu banyaknya nilai positif yang dapat diambil dari tradisi ini. Begitu pula dengan kaum muda, juga perlu membaurkan dan membiasakan diri dengan melakukan rewang, supaya tidak akan luntur oleh zaman sekaligus bentuk kesanggupan sebagai warna negara dalam menjalankan sila-sila Pancasila, khususnya sila ke-tiga. (Oleh Safira Rahmi)

Demikian serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Rewang. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Safira Rahmi ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

Daftar Pustaka

  • Alvy Arima. 2017. Observasi Budaya Rewang Masyarakat Jawa. Malang. https://www.academia.edu/33515720/Observasi_Budaya_REWANG_Masyarakat_Jawa diakses pada 15 Agustus 2019


0 Response to "Rewang : Membangun Fondasi Dalam Tradisi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel