Pesona dan Fakta Tradisi Samawa

Sumbawa sebagai salah satu kabupaten yang terluas wilayahnya didiami oleh salah satu dari tiga etnik besar di Nusa Tenggara Barat, yaitu etnik Samawa. Secara geografis dapat disebutkan bahwa daerah Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat adalah sebagai tempat domisili etnik Samawa.

Samawa dari bahasa sanskerta, Samava, berarti menunjuk ke selatan, tempat yang aman tenteram, subur-makmur; orang yang datang enggan pulang, dan kalupun terjadi bencana dan kerusuhan tidak akan meluas. Hal itu mengacu pada salah satu nama sikap semedi Budha Sidharta Gautama, Samava (Yoga, Meditasi Budha, Mendut, 1982).

Hubungan etnik Samawa dengan suku-suku bangsa lain di Nusantara telah berlangsung sejak lama. Hal itu ditandai dengan hasil asimilasi budaya yang kemudian berkembang menjadi budaya Samawa. Banyaknya anggapan bahwa budaya Samawa lebih dominan dipengaruhi oleh budaya Bugis dan Makasar, kalau ekspresi budaya itu terlihat dari beberapa bentuk upacara pada tataran ningrat.

Namun, di sisi lain, (terutama pada folklor bukan lisan seperti kesenian, dan arsitektur tradisionalnya), lebih terkesan kentalnya pengaruh Melayu. Pengaruh Jawa yang dibawa Majapahit pun tak lekang begitu saja, yang seluruhnya melebur menjadi budaya Samawa.

Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat meliputi bagian barat Pulau Sumbawa, di samping, Kabupaten Dompu dan Bima di bagian timurnya. “Tana Samawa” sebagai sebutan aslinya memiliki luas 8.493 km2, berada pada 116˚, 42’-118˚. 22’ Bujur Timur dan 08˚8’-09˚.07’ Lintang Selatan, merupakan kabupaten terluas di antara 8 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Hakikat Tradisi Samawa


“ADAT BERSENDIKAN SYARA, SYARA BERSENDIKAN KITABULLAH” merupakan pedoman dan pegangan bagi warga kolektivitas Samawa, yang dapat dilihat dalam berbagai macam bentuk aktivitas tradisi masyarakatnya.

Hakikat tradisi Samawa sebetulnya tidaklah hilang dan tenggelam secara fisik sebagaimana dibayangkan, karena konsep-konsep nilai budaya di atas masih kental di bawah batok kepala Tau Samawa (Orang Sumbawa).

Fungsi Tradisi Bagi Tau Samawa


Tradisi dan adat-istiadat Tau Samawa merupakan kesepakatan untuk mewujudkan kearifan lokal di dalam masyarakat yang tentunya mempunyai fungsi bagi kelangsungan hidup mereka. Fungsi-fungsi tersebut hakikatnya ada dua, pertama: fungsi manifest atau over (diharapkan dan tampak) dan kedua: fungsi laten (terselubung dan tidak diharapkan).

Fungsi manifest atau over (diharapkan dan tampak) adalah: fungsi ibadah/penghormatan terhadap Tuhan Maha Pencipta dan para leluhur, fungsi pengembangan sumber daya manusia yang berjiwa sosial, fungsi konservasi dan pelestarian sumber daya alam, fungsi pengendalian sosial dan resolusi konflik.

Fungsi laten (terselubung dan tidak diharapkan) adalah: menjaga solidaritas dan fungsi rekreasi dan ekonomi. Semua fungsi-fungsi itu tersublimasi dalam berbagai bentuk tradisi Tau Samawa.

Bentuk-Bentuk Tradisi Samawa


Bentuk-bentuk Tradisi Samawa dibagi menjadi 3 jenis yaitu: tradisi lisan Samawa, tradisi sebagian lisan Samawa, dan tradisi bukan lisan Samawa. Masing-masing bentuk dari tradisi Samawa memiliki pesona dan fakta yang transenden.

Tradisi lisan Samawa, tradisi ini dibagi lagi menjadi 6 bentuk yaitu:

  1. Basa Samawa: adalah salah satu bentuk folklor, bahasa komunikasi sehari-hari Tau Samawa. Menurut Mahsun (1994), bahasa Sumbawa terbagi dalam 4 dialek, yaitu Jereweh, Taliwang, Tongo, dan Sumbawa Besar. Dari 4 dialek itu terbagi lagi ke dalam sub-sub dialek. Dialek Jereweh terdiri dari 2 sub-dialek: dialek Beru dan Lalar. Dialek Taliwang terdiri dari 3 sub-dialek: Salet, Meraran, dan Mantar. Dialek Tongo memiliki 4 sub-dialek: Tatar, Singa, Emang, dan Labangkar. Dialek Sumbawa Besar memiliki 3 sub-dialek: Rhee, Seran, dan Batu Rotok. Jadi ada 12 sub-dialek Basa Samawa. Bahasa rakyat ini berfungsi untuk: memperkokoh identitas folk-nya, untuk melindungi pemilik folklor itu dari ancaman kolektif lain atau penguasa, memperkokoh kedudukan folknya pada jenjang pelapisan masyarakat (gelar dan bahasa bertingkat), dan memperkokoh kepercayaan rakyat dari folk-nya.
  2. Ama Samawa: adalah ungkapan tradisional Tau Samawa. Dalam bahasa Samawa dikenal dengan nama ama, yang bisa berbentuk: peribahasa sesungguhnya berupa kalimat sederhana, peribahasa yang tidak lengkap kalimatnya, peribahasa perumpamaan, dan ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa. Beberapa contoh ama seperti: Tili sira no basa (lindungi garam tak basah) artinya menutup sesuatu hal/keadaan yang sebenarnya agar tidak tampak menyolok, Talenat yang sira ka turenam (tenang bak garam direndam) dikemukakan oleh bentuk kekesalan ketika menanti seseorang yang ditunggu-tunggu, kabar beritanya juga tak ada.
  3. Lawas Samawa: adalah sajak dan puisi rakyat Tau Samawa. Puisi rakyat ini dapat berbentuk peribahasa, teka-teki, cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantera-mantera. Lawas merupakan sastra lisan kesusastraan Tau Samawa yang diturunkan turun-temurun secara lisan.
  4. Tuter Samawa: adalah prosa/cerita rakyat Tau Samawa. Contoh cerita rakyat Sumbawa: Nya Bonong Lalo Ramukaq, dan Haji Dola Kalebu. 
  5. Panan Samawa: adalah pertanyaan tradisional di dalam kolektivitas Samawa yang dikenal dengan nama panan, yaitu pertanyaan tradisional yang mempunyai jawaban tradisional. Contoh panan Tau Samawa: ayam puti bao masjid, ayam puti sopo ne, ayam puti bakorong besi, ayam puti bao bong, dan masih banyak lagi.
  6. Nyanyian Rakyat Tau Samawa: dibedakan menjadi 3 yaitu: nyanyian rakyat berfungsi, nyanyian rakyat yang bersifat liris, dan nyanyian rakyat berkisah.

Tradisi sebagian lisan Samawa, tradisi ini dibagi lagi menjadi 6 bentuk yaitu:

  1. Penyadu Tau Samawa: adalah kepercayaan rakyat yang lebih menjerus kepada pengertian tahayul. 
  2. Pakedek Tau Samawa: adalah permainan rakyat. Contoh permainan Tau Samawa; Barapan, Barakaci, Ba Kadaro, Baranek Bawi, Bariwak, Balogo, Kandese, Lontak Batu Asa, Main Tabaq atau Main Batu, Main Jali, Main Ya-ke, Main Takenjel, Main Sorong, Nyuk Nyak Ayam Cukung, Ramake, Rabanga, Ramajang, dan Ramacan.
  3. Kaboto Tau Samawa: adalah kerajinan rakyat. Dari segi bahan, kerajinan rakyat Sumbawa dikelompokkan menjadi 4 yaitu; tanah liat, bambu dan kayu/daun, benang dan kain serta benda-benda logam. Dari cara membuatnya dibagi menjadi: menempa (besi dan tanah liat), mengukir (ukir-ukiran pada hulu-sarung parang, dan benda-benda hias), menenun dan menganyam (daun pandan dan lontar, bambu, dan kain/kre-alang).
  4. Basarame Tau Samawa: adalah pesta rakyat. Pesta rakyat pada masyarakat Sumbawa pada umumnya ditekan pada fungsi-fungsi tertentu berkaitan dengan ekspresi rasa syukur, permohonan dan harapan, silaturrahmi dan gotong royong, serta nazar (kaul). Contoh pesta rakyat masyarakat Sumbawa berupa panen raya adalah mataq-rame (potong padi).
  5. Pajatu Tau Samawa:  adalah struktur sosial masyarakat Sumbawa.
  6. Adat Istiadat Tau Samawa: adalah adat dari masyarakat Sumbawa, seperti; Pangantan Samawa, Biso Tian, Basunat dan Baterok, dan Tama Lamung
Tradisi bukan lisan Samawa, tradisi ini dibagi lagi menjadi 4 bentuk yaitu: 


  1. Bale Tau Samawa: adalah arsitektur tradisional Tau Samawa yaitu rumah panggung. Ciri khas rumah panggung orang Sumbawa adalah bangkung yang merupakan ornamen utama. Pemasangan bangkung sedemikian rupa pada ujung kedua bubungan atap. Yang umum terlihat pada masyarakat kebanyakan adalah yang berbentuk cagak disebut layang. Secara kasat mata terlihat dari bubungan seperti huruf V. Namun orang Sumbawa menerjemahkannya sebagai sebuah filosofis, bahwa dari depan rumah panggung terlihat sebuah penampang yang menggambarkan huruf hijaiyah (Arab) berbentuk lam-alif. Maknanya adalah manusia selalu terikat dan mengikatkan dirinya di dalam lindungan Allah.
  2. Kre Lamung Tau Samawa: adalah pakaian tradisional. Disebut pakaian tradisional karena selalu dipakai pada acara tradisional. Secara umum di kalangan masyarakat Sumbawa mengenal pakaian tradisionalnya secara turun temurun seperti kre-alang, sapu-alang, sapu-batek, pabasa, dan cilo untuk laki-laki tua muda, sedangkan untuk wanita dikenal lamung pene, cipo-cila, kida sangeng dan kre-alang. Fungsi pakaian menurut orang Sumbawa bukan hanya sekedar penutup aurat, tetapi juga sebagai ekspresi kepribadian yang berkaitan erat dengan kesehatan. Orang Sumbawa juga menempatkan pakaian sebagai tolak ukur kesopanan, terlihat ketika mereka menghadapi makanan. Kalau orang Sumbawa mau makan, dalam keluarga ataupun dalam pertemuan makan bersama wajib atasnya memakai tutup kepala. Sikap demikian menunjukkan penghargaan atas rezeki yang dianugerahkan oleh Allah SWT.
  3. Jangan-Kakan Tau Samawa: adalah makanan tradisional Tau Samawa. Makanan tradisional Sumbawa dimasak dan disajikan atas dasar ungkapan ikatan sosial. 
  4. Medo-Buraq Tau Samawa, adalah obat-obatan tradisional Tau Samawa. Dalam sistem pengetahuan orang Sumbawa, medo-buraq merupakan media ikhtiar dan usaha untuk penyembuhan, yang sekaligus juga bisa berperan sebagai penangkal penyakit. Contoh medo-buraq seperti; parapa, bawang merah, minyak, kayu, akar-akaran, dan batu-batu permata untuk pengobatan.
Dari penjabaran di atas dapat dilihat bahwa Samawa memiliki tradisi yang mempunyai fakta penjelasan di dalamnya dan memiliki pesona dari tradisi-tradisi tersebut. Semoga artikel yang ditulis oleh Sahirah Irawan ini bermanfaat.

KEPUSTAKAAN
  • Zulkarnain, Aries. 2015. Tradisi dan Adat Istiadat Samawa. Yogyakarta:Penerbit Ombak.
  • FloresTourTransport. Sumbawa Maps. [Internet]. Tersedia di https://florestourtransport.com/peta-sumbawa-dan-flores/.
  • Barry Kusuma. Ini Lho Destinasi Menarik di Kota Sumbawa Besar. [Internet]. Tersedia di https://travel.kompas.com/read/2013/12/09/1635239/Ini.Lho.Destinasi.Menarik. di.Kota.Sumbawa.Besar.?page=all

25 Responses to "Pesona dan Fakta Tradisi Samawa"

  1. Jadi tau lebih banyak tentang sumba, bukan sekedar alamnya yg membuat takjub. Tradisi dan kebudayaan yg patut diketahui. Terimakasih info nya

    BalasHapus
  2. lumayan buat nambah wawasan biar makin luas ... thanks infonya

    BalasHapus
  3. Keren blognya memperluas pengetahuan,terima kasih admin untuk menjelajah budaya yang masih asing di telinga saya

    BalasHapus
  4. detail banget penjelasan'nye..
    Berbeda-beda tetap satu jua..
    Merdeka indonesia

    BalasHapus
  5. Lebih menarik lagi ya, ungkapin kontroversi di awal gaada salahnya kok. Semangat terus

    BalasHapus
  6. waa lengkap banget, jadi lebih kebuka pandangannya kepada masyarakat Sumba dan sangat menambah wawasan, berguna bgt artikelnya, makasih kak✨😊

    BalasHapus
  7. Sedikit kritik dari orang awam, pada penggunaan kata yang tidak umum tolong berikan penjelasan singkat. Selebihnya di artikel ini membahas suku yang unik, dibahas dengan ciamik. Sangat menarik!

    BalasHapus
  8. Blognya bagus bgt isinya detail,hanya pemberian beberapa tanda baca ada yang kurang pas seperti tanda komanya. Tapi isinya bener-bener lengkap banget. Semangattt terus buat artikelnya

    BalasHapus
  9. Pasti admin'nya rajin baca buku, tanks admin.. klo bs upload foto'nya yg bnyak, sperti pakaian adat'nya dn msakan kas di NTB

    BalasHapus
  10. Saya jadi paham lebih banyak, terima kasih ya

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah bermanfaat ni artikelnya jadi menambah pengetahuan lagi yg tadi nya kurang tau menjadi tau tentang masyarakat sumba...
    Klo boleh saran ditambah lagi ya gambar"nya didlm artikel supaya lebih menarik... smngt trs adminnya yg telah membuat artikelnya, good job...

    BalasHapus
  12. Keren banget ini. Lengkap penjelasannya terimakasih atas semua infomasinya 👍

    BalasHapus
  13. lengkap ges , bermanfaat sekali. lebih mantap ada visualnya biar nyantol di otak,terimakasih.

    BalasHapus
  14. Sangat bermanfaat artikelnyaa dan semua infonya jelas 👌

    BalasHapus
  15. Nice Artikel �� Terima kasih sudah menulis dan membagikan Ilmu ini.

    Lanjutkan perjoenganmu, kawan..

    BalasHapus
  16. Mungkin bukan cuma saya yang sebelumnya tidak tau tentang informasi ini menjadi tau dan sangat menambah wawasan kita sebagai masyarakat indonesia,hal hal yg belum banyak dimuat di artikel2 lain. Terimakasih atas informasinya,terus lanjutkan tulisan2nya mengenai hal2 lain yang jarang dibahas dimedia2 saat ini!

    BalasHapus
  17. Blog yang bermanfaat, menambah wawasan pengetahuan tentang salah satu etnis di indonesia

    BalasHapus
  18. Dapat membuktikan kepada dunia bahwa indonesia kaya akan budaya serta memberi edukasi kepada masyarakat indonesia sendiri tentang budaya leluhurnya, saran kasih gambar ato foto supaya lebih menarik overall okaay

    BalasHapus
  19. Bermanfaat, terimakasih!!!

    BalasHapus
  20. Bagus Artikel nya min. Tapi coba diperbanyak gambar penjelasnya agar lebih memahami maksud dan isinya min.

    BalasHapus
  21. Bermanfaat banget nih artikelnya karna pembahasannya lengkap dan mendetail. Sedikit tambahan mungkin lain kali lebih banyak dikasih gambar kali ya jangan cuma satu aja biar pembaca juga ga bosen ngeliat tulisan aja dan lebih punya gambaran sedikit tentang nama-nama asing dari adat istiadat disana. Catatan untuk istilah asing mungkin lebih baik dijadikan Italic aja supaya lain dari kalimat lain. Untuk keseluruhannya udah bagus banget sih. Good job!

    BalasHapus
  22. Sangat bermanfaat, hanya saja bentuk asimilasi dengan budaya lainnya kurang spesifik seperti apa

    BalasHapus
  23. Pesona sumba tak hanya apa yang dilihat, keragamannya ada di setiap sisi mana tempat yang dipijak, mana tempat yang mengajarkan berbagai hal. Sudut pandang dan pembelajaran baru bagi insan. Menarik untuk didalami, akan lebih menarik lagi bilamana artikel ini memberi tambahan grafis akan semenarik dan semegah sumba.

    Ditunggu artikel berikutnya.

    BalasHapus
  24. Keren! Lengkap penjelasannya dan bermanfaat banget. Tapi mungkin diperbanyak lagi foto fotonya biar lebih menarik. Terima kasih

    BalasHapus
  25. Bermanfaat banget info nya, saya jadi semakin tau budaya-budaya yg ada di Indonesia. terimakasih admin

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel