Tradisi Syawal di Kota Batik



Kota Batik merupakan julukan yang diberikan kepada sebuah kota di pesisir pantai utara Jawa Tengah, yakni Pekalongan. Pekalongan menjadi salah satu kota yang terkenal akan batik. Letaknya yang startegis membuat lalu lintas di kota ini selalu ramai.

Entah ramai wisatawan yang ingin berwisata dan berbelanja batik, ataupun ramai karena Pekalongan dilalui jalur pantura, yakni jalur utama penghubung kota-kota besar di Pulau Jawa. Kota Pekalongan terbagi menjadi empat kecamatan, yaitu kecamatan Pekalongan Utara, Pekalongan Barat, Pekalongan Timur, dan Pekalongan Selatan.

Kota Pekalongan mempunyai berbagai macam kebudayaan yang tidak dijumpai di daerah lain, salah satunya yaitu tradisi syawalan. Tradisi syawalan merupakan tradisi yang sudah turun menurun dari ratusan tahun yang lalu.

Syawalan merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat daerah Krapyak yang berada di Kota Pekalongan bagian utara. Syawalan diselenggarakan pada hari ke-7 setelah Hari Raya Idul Fitri ( 8 Syawal).

Tradisi ini selalu berhasil menarik perhatian khalayak karena adanya sebuah lopis raksasa. Lopis raksasa yang dibuat dengan ukuran tinggi 2 meter dan diameter 1,5 meter menjadi ciri khas tersendiri. Pembuatan lopis raksasa menghabiskan waktu 4 hari 3 malam.

Proses pembuatannya dimulai dari penanakan beras ketan, dilanjutkan merangkai daun pisang dan bambu, kemudian menumbuk beras ketan yang setengah matang, setelah itu dimasukkan ke dalam wadah secara bertahap.

Bagi masyarakat Pekalongan khususnya Krapyak, lopis raksasa mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila, ideologi Bangsa Indonesia. Lopis yang dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang, dan direbus selama 4 hari 3 malam membuat butir-butir ketan tersebut tidak mungkin lagi bercerai berai kembali seperti semula.

Menurut para sesepuh, alasan yang membuat lopis tersebut tetap dibungkus menggunakan daun pisang adalah arti dari pohon pisang itu sendiri. Pohon pisang merupakan pohon yang tidak akan mati sebelum berjasa dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet.

Maka dari itu, masyarakat sekitar tetap mempertahankan daun pisang sebagai bungkus lopis, meskipun sekarang sudah banyak bungkus lain yang lebih praktis. Tradisi lopis raksasa ini berawal dari kebiasaan masyarakat Krapyak yang mengadakan acara open house dengan tujuan menerima tamu dari luar desa bahkan luar kota.

Setiap tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak kembali ber-hari raya setelah berpuasa selama enam hari. Hal ini diketahui oleh masyarakat di luar Krapyak sehingga mereka tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada tanggal 2-7 Syawal, namun berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal.

Kebiasaan tersebut berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terbentuklah tradisi syawalan seperti sekarang ini.bTradisi syawalan dengan lopis raksasa ini sudah dimulai sejak tahun 1855 M.

Orang pertama yang menggelar hajatan Syawalan ini adalah KH.Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso. Upacara pemotongan lopis baru dimulai sejak tahun 1956 M oleh Bapak Rohmat, kepala desa daerah tersebut pada masa itu.

Masyarakat Krapyak biasanya juga menyediakan makanan ringan dan minuman gratis kepada para pengunjung. Makanan yang wajib tersedia adalah lopis dengan parutan kelapa ditambah dengan kinco (cairan dari gula jawa) dan lotek buah. Masyarakat juga biasanya menggelar kegiatan hiburan, seperti pentas seni dan lomba-lomba.

Setelah pembagian lopis selesai, biasanya para pengunjung berbondong-bondong ke Destinasi Wisata Pantai Slamaran dan Pantai Pasir Kencana untuk berlibur bersama keluarga. Selain lopis raksasa, ketika Syawalan langit Pekalongan akan dipenuhi dengan balon udara.





Pemerintah Kota Pekalongan mengadakan festival balon udara yang diikuti oleh ratusan peserta. Balon udara biasanya dihias dengan beraneka ragam motif batik. Tradisi Syawalan yang syarat akan makna ini mampu menarik ribuan orang yang berasal dari Kota Pekalongan dan sekitarnya.

Tradisi ini harus dijaga dan dilestarikan agar kelak anak cucu kita dapat melihat secara langsung bagaimana meriahnya acara yang ditunggu-tunggu setiap tahun, yakni Syawalan di Kota Pekalongan.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Syawal. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Anissa Maulidya ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

9 Responses to "Tradisi Syawal di Kota Batik"

  1. Pekalongan ku sangat indah. Mantap untuk blog nya, lanjutkan untuk adat-adat yang lain.

    BalasHapus
  2. Wahh pekalongan luar biasaa 🖤

    BalasHapus
  3. Dari tahun ke tahun tambah maju aja kota Pekalongan,nyesel syawalan kemarin gak bisa ikut main main ke Krapyak,mantap Pekalongan ku 👍👍

    BalasHapus
  4. Uwuu tadisi yang luar biasa

    BalasHapus
  5. ayoooo mampir krapyak kita liat lopis raksasa bareng!! asik bgt tiap syawalan rame gt banyak rumah2 openhouse!! mantap bgt lah Pekalonganku!

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel