Uang Panai: Mahar atau Mahal?



Nikah merupakan dambaan setiap manusia yang menginginkan hidup halal dengan pasangannya. Pernikahan sebagai syarat mutlak bagi sepasang kekasih yang ingin membina rumah tangga. Pada dasarnya, pernikahan bukanlah sesuatu yang sulit.

Nikah adalah hal yang mudah, mudah bukan berarti sebatas mencari psangan lalu meminangnya, tapi pernikahan harus dibekali dengan niat dan cinta sebagai wujud ibadah kepada sang pencipta. Jika sudah dibekali niat dan cinta, maka langkah selanjutnya adalah mempersiapkan serangkaian acara pernikahan.

Dalam menyiapkan prosesi pernikahan, setiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Salah satunya budaya di tanah Bugis. Suku Bugis sangat terkenal dengan budaya nikahnya. Bukan hanya dari prosesi yang panjang mulai dari kegiatan mappacci (membersihkan diri) hingga akad, melainkan syarat nikah suku Bugis yang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu uang panai.

Uang panai atau yang dikenal dengan istilah mahar adalah sejumlah uang yang dipersyaratkan oleh keluarga mempelai wanita kepada pria. Uang panai dalam budaya nikah suku Bugis menjadi salah satu bagian dalam mahar.

Uang panai biasanya dibarengi dengan sejumlah harta benda mulai dari seperangkat alat sholat hingga aset tetap seperti tanah, sawah dan mobil.

Uang Panai Suku Bugis

Uang panai yang dipersyaratkan oleh keluarga mempelai wanita kepada pria memiliki tingkatan yang bebeda. Tujuan uang panai ini tidak semata sebagai budaya masyarakat di tanah Bugis melainkan salah satu bentuk penghargaan tertinggi pihak keluarga pada putrinya.

Biasanya besaran uang panai bergantung dari strata keluarga dan strata yang dimiliki oleh si mempelai wanita. Strata keluarga seperti berasal dari keluarga bangsawan dan pejabat suku atau daerah.

Sementara strata seorang putrinya dilihat dari pendidikan, kecantikan hingga pekerjaan.
Jika keluarga putrinya adalah keturunan bangsawan maka uang panai yang harus disediakan oleh mempelai pria mencapai ratusan juta rupiah.

Begitu halnya dengan strata mempelai wanita, semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka uang panai juga akan semakin besar. Misalnya saja, untuk lulusan sarjana uang panai mencapai 100 juta rupiah. Nominal ini belum termasuk dengan harta lain yang dijadikan mahar.

Besarnya uang panai suku Bugis seringkali menjadi perbincangan di media sosial. Ada yang menganggap uang panai suku Bugis adalah satu hal yang memberatkan dan tidak dibenarkan dalam ajaran agama apalagi untuk persoalan nikah.

Namun, ada pula yang menganggap bahwa uang panai adalah tradisi yang memiliki makna positif tersendiri. Bagi masyarakat Bugis, uang panai bukanlah hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Uang panai sudah menjadi tradisi yang memiliki makna tersendiri.

Bagi mereka, uang panai adalah gambaran keberanian pihak mempelai pria dalam mempersunting putrinya. Makna lain yang tersirat dalam uang panai mengajarkan kepada kita bahwa untuk mendapatkan seoarang wanita itu butuh perjuangan dan pernikahan bukanlah perkara yang mudah.

Jika seorang lelaki benar-benar ingin menikahi seorang wanita Bugis maka ia perlu berjuang tanpa mempermasalahkan permintaan besarnya uang panai dari kelaurga si mempelai wanita. Meskipun uang panai suku Bugis terbilang mahal, namun seringkali uang panai masih bisa didiskusikan oleh pihak keluarga kedua calon mempelai.

Fakta dan Perkembangan Uang Panai 

Zaman dahulu, tepatnya di tanah Bugis (khususnya daerah Sulawesi Selatan), uang panai dijadikan sebagai bentuk keseriusan seorang pria dalam melamar calon mempelai wanita. Artinya, tingginya uang panai akan membuat pihak pria berpikir seribu kali untuk mempermainkan pernikahan apalagi menceraikan istrinya karena ia sudah berkorban banyak untuk mempersunting istrinya.

Tradisi uang panai ini sudah melekat dari jaman penjajahan Belanda dan hingga kini masih melekat dan dijalankan oleh masyarakat Bugis. Bagi masyarakat Bugis jaman dahulu, uang panai menunjukkan bahwa warga Bugis sangat menghargai keberadaan perempuan sebagai makhluk Tuhan yang sangat berharga sehingga tak sembarang orang dapat meminang wanita Bugis apalagi mempermainkan wanita Bugis.

Arus perkembangan zaman yang sudah memasuki revolusi 4.0 tidak menjadikan budaya Bugis termakan oleh kemodernan zaman. Justru di zaman modern ini, uang panai terus mengalami peningkatan dari sisi nominal.

Apalagi di zaman sekarang pendidikan wanita Bugis makin tinggi sehingga uang panai pun ikut berpengaruh. Zaman boleh berubah namun tradisi uang panai tidak hilang begitu saja.

Tradisi uang panai di kalangan suku Bugis hingga kini seringkali menjadi perbincangan hangat di media, apalagi di era digital arus percepatan informasi begitu cepat. Seiring perkembangan zaman, ada beberapa fakta seputar uang panai.

Pertama, di zaman dahulu, uang panai yang fantastis menjadi tantangan tersendiri bagi pihak calon mempelai pria dalam mewujudkan niatnya. Sehingga banyak dari mereka yang betul-betul bekerja untuk mengumpulkan uang panai.

Berbeda dengan sekarang, sebagian pria mudah menyerah apabila disyaratkan uang panai dengan nominal fantastis, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengambil jalan pintas seperti bunuh diri atau kawin lari.

Fakta kedua, akhir-akhir ini banyak peristiwa tragis yang terjadi di kalangan masyarakat khususnya daerah Sulawesi Selatan seperti kawin lari, bunuh diri, hamil di luar nikah hingga perpecahan keluarga akibat tradisi uang panai.

Peristiwa ini pun banyak menarik perhatian media perfilman untuk menayangkan kisah nyata tersebut di layar kaca.

Fakta ketiga, uang panai bukanlah uang yang seringkali diistilahkan sebagai harga diri wanita, melainkan uang panai tersebut digunakan kembali untuk melangsungkan acara pernikahan, karena di kalangan suku Bugis prosesi pernikahan memiliki serangkaian acara yang mana membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Tak heran jika mempelai wanita memperhitungkan biaya-biaya tersebut dalam mahar.
Fakta keempat, meskipun nominal uang panai begitu fantastis, bukan berarti orang yang tidak mampu tidak dapat mewujudkan niat baiknya untuk meminang wanita pujaannya.

Dalam uang panai suku Bugis berlaku istilah siaga ulleta (berani berapa) yang bermakna bahwa uang panai dapat dinegosiasikan.

Sebagai kesimpulan, penulis ingin menyampaikan bahwa pada dasarnya uang panai bukanlah suatu hal yang bertentangan dengan ajaran agama, melainkan uang panai memiliki tujuan mulia. Meskipun terlihat berlebihan, namun ada pesan positif tersendiri yang terkandung dalam uang panai.

Penulis sendiri berasal dari suku Bugis dan menganggap bahwa uang panai adalah hal yang wajar. Setiap daerah pasti memiliki budaya dan kita harus menghargai budaya tersebut. Berbeda bukan salah, tapi ingat kita adalah negara Bhinneka Tunggal Ika. Uang panai memang mahal, tapi pria berani tidak mempermasalahkan mahar.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Uang Panai. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Akbar Tanjung, SM ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih, 

0 Response to "Uang Panai: Mahar atau Mahal?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel