Pro Kontra Uang Panai : Tradisi Wajib Sebelum Mempersunting Wanita Suku Bugis Makassar


Suku Bugis – Makassar adalah salah satu kelompok adat yang berasal dari Pulau Sulawesi dan cukup terkenal di seluruh indonesia. Tradisi – tradisi yang dijalankan oleh suku Bugis – Makassar sangat kental dan masih terus dilestarikan hingga sekarang. Mulai dari tradisi – tradisi yang  bagi kebanyakan orang sudah cukup familiar hingga tradisi – tradisi yang mampu membuat orang terbelalak ketika mengetahuinya.

Tradisi – tradisi atau kebiasaan hingga kepercayaan masyarakat dari Suku Bugis-Makassar tidak jauh berbeda dari tradisi atau kebiasaan hingga kepercayaan masyarakat dari suku budaya lainnya di Indonesia. Sebagian besar hanya berbeda dari segi penamaan tradisi atau istilah yang digunakan.

Misalnya Budaya menjaga dan menjungjung tinggi harga diri Siri’na Pacce di Suku Bugis – Makassar memiliki makna yang sama dengan budaya Carok yang berasal dari Suku Madura. Kedua budaya tersebut memiliki pelafalan yang berbeda sesuai dengan asal daerahnya masing – masing, namun makna yang tersirat dibalik kedua budaya tersebut adalah sama.

Hal ini lumrah terjadi karena kita ketahui bersama bahwa sesungguhnya semua budaya yang ada di Indonesia walaupun sangatlah beragam, seluruhnya mengajarkan untuk selalu menjaga kebaikan dan menjunjung tinggi kehormatan.

Dengan pemahaman bahwa semua budaya dan tradisi yang masih dipertahankan dan dijalankan oleh setiap suku  hingga saat ini  tentunya bermanfaat bagi seluruh masyarakatnya, saya akan membahas salah satu tradisi yang turun – temurun masih dijalankan oleh masyarakat Suku Bugis – Makassar  yang seringkali memunculkan banyak pertanyaan hingga pro dan kontra mengenai seluk beluk tradisi tersebut. Tradisi yang berasal dari Suku Bugis – Makassar di Sulawesi Selatan ini dikenal dengan istilah “Uang Panai”.

Sebagai salah satu masyarakat yang berasal dari Sulawesi Selatan dan lebih khusus berasal dari Suku Bugis – Makassar, istilah Uang Panai bukan lagi menjadi hal yang asing di telinga saya. Secara garis besar bisa disebut bahwa terdapat 2 sudut pandang seseorang bisa menilai bagaimana dampak dan pengaruh Uang Panai tersebut hadir dalam kehidupan masyarakat Bugis – Makassar.

Bagi masyarakat yang belum berfikir kepada arah yang lebih serius dalam suatu hubungan atau kita sebut remaja pada umumnya, Uang Panai bukanlah hal yang penting untuk dibicarakan bahkan seringkali menjadi bahan obrolan canda tawa bagi para remaja.

Mereka tau secara garis besar apa itu Uang Panai namun tidak akan mencari tahu bagaimana pengaruh Uang Panai dalam kehidupan bermasyarakat Suku Bugis – Makassar. Bagi masyarakat dewasa yang umumnya sudah berfikir sedikit lebih serius mengenai suatu hubungan antara perempuan dan laki – laki dewasa, mereka akan beranggapan bahwa uang panai adalah sesuatu yang wajib untuk dibicarakan matang – matang sebelum melangah ke jenjang yang lebih serius.

Uang panai apabila diartikan secara sederhana adalah merupakan bentuk pemberian harta benda oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita yang telah lebih dulu disepakati jumlah atau nominalnya sebelum pria dan wanita dewasa dinikahkan.

Uang Panai ini merupakan satu dari sekian banyak tradisi dari Suku Bugis – Makassar ketika akan melangsungkan prosesi pernikahan. Banyak pro maupun kontra yang timbul mengenai tradisi Uang Panai ini.

Dalam pandangan masyarakat luas, tradisi uang panai dianggap membebankan calon pengantin pria. Banyak komentar yang timbul mengenai apa tujuan dari adanya tradisi Uang Panai dalam proses pernikahan suku Bugis Makassar. Pasalnya Uang Panai merupakan hal yang berbeda dari Mahar Pernikahan.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya memang pembahasan mengenai Uang Panai adalah hal yang sensitif. Banyak yang mendukung tradisi Uang Panai ini agar terus – menerus dijaga kelestariannya. Namun tidak sedikit pula yang kontra dan mempertanyakan tujuan adanya tradisi uang Panai.

Kontra atau penolakan terhadap adanya tradisi uang panai biasanya muncul dari masyarakat yang berasal dari luar suku Bugis Makassar yang harusnya bisa dimaklumi karena dianggap belum tahu menahu mengenai seluk beluk adanya tradisi Uang Panai, maupun masyarakat yang berasal dari suku Bugis Makassar itu sendiri yang beranggapan bahwa tradisi Uang Panai sudah tidak relevan untuk dijalankan di zaman sekarang ini.

Banyak yang beranggapan bahwasanya kehadiran Uang Panai ini selain memberatkan calon pengantin pria juga dianggap seperti permainan memperjualbelikan anak perempuan. Pasalnya diketahui ada tarif – tarif tertentu yang dipasasang dan berlaku secara umum di lingkungan masyarkat Suku Bugis – Makassar untuk “melunasi” Uang Panai bagi calon mengenyam pendidikan hanya sampai pada tingkat SMA, uang panai yang harus disiapkan berkisar pada angka 50 juta.

Sedangkan untuk mereka yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai tingkat S1, uang panainya bisa sampai 150 juta. Apalagi jika status pendidikan sudah sampai pada tingkat S2. Jumlah tersebut belum melihat status keturunan calon pengantin wanitanya belum lagi jika ditambah dengan jenis pekerjaan wanita tersebut.

Kita bisa melihat contoh pernikahan yang baru – baru saja terjadi di Kota Makassar pada awal tahun 2019 antara seorang pengusaha pria yang merupakan adik dari Bupati salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan dengan perempuan berparas cantik yang berprofesi sebagai dokter. Uang Panai yang diserahkan calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita dikonfirmasi senilai satu milyar rupiah diluar mahar pernikahan.

Bagi sebagian orang, Uang Panai dianggap pula menghambat prosesi pernikahan, padahal dalam pandangan agama orang yang saling mencintai harus disegerakan untuk menikah. Pasalnya Uang Panai saat ini umumnya nominalnya sangat mencekik leher.

Dari ratusan juta rupiah hingga ke nominal milyaran rupiah seperti contoh yang telah saya sebutkan sebelumnya. Seiring berjalannya waktu Uang Panai dianggap kehilangan arti sesungguhnya sebagai suatu tradisi turun temurun pada masyarakat suku Bugis Makassar.

Kebanyakan masyarakat saat ini menjadikan Uang Panai sebagai suatu alat untuk saling beradu prestise dan menaikkan harga diri. Sederhananya bisa disebut sebagai alat untuk “Panjat Sosial”. Semakin tingg Uang Panai yang dibayarkan calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita maka semakin tinggi pula prestise dari kedua keluarga calon pengantin khususnya keluarga calon pengantin wanita.

Dibalik itu semua, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa semua budaya dan tradisi yang masih dipertahankan dan dijalankan oleh setiap suku  hingga saat ini  tentunya bermanfaat bagi seluruh masyarakatnya atau dengan kata lain dianggap membawa kepada kebaikan.

Terlepas dari besarnya jumlah uang panai, tradisi Uang Panai sebenarnya ingin menyampaikan secara tersirat bahwa wanita adalah sosok yang memang layak untuk dihargai lebih. Bukan maksud untuk memperjual belikan anak wanita seperti kebanyakan pikiran masyarakat, hanya saja tradisi uang panai suku Bugis Makassar ini mengisyaratkan bahwa memang seperti itulah sepatutnya perjuangan untuk mendapatkan wanita pujaan hati.

Seperti kata salah seorang Sosiologis dari Universitas Hasanuddin Makassar, Rahmat Muhammad, bahwa Uang Panai juga merupakan siri, atau kewibawaan harga diri dalam Budaya Bugis – Makassar. Selain itu, uang panai diharapkan dapat menjadi salah satu alasan kuat yang dapat mendorong calon mempelai pria untuk lebih semangat dalam bekerja agar bisa memenuhi persyaratan untuk mendapatkan wanita yang mereka idamkan.

Di luar pro kontra terhadap dampak Uang Panai dalam kehidupan masyarakat, tidak sedikit hubungan yang kandas baik sebelum menikah maupun setelah menikah sebagai dampak dari tradisi uang panai. Berbagai permasalahan yang terjadi di dalamnya seperti calon mempelai pria yang tidak mampu membayar uang panai yang ditetapkan oleh keluarga calon mempelai wanita hingga pasangan suami – isteri yang harus cerai akibat tidak sanggup menanggung malu atas uang panai yang dibayarkan pengantin pria sebelum menikah yang setelah diketahui masyarakat luas ternyata nominalnya dianggap terlalu sedikit.

Penentuan besaran Uang Panai bisanya dilakukan melalui pembicaraan pra pernikahan antara masing – masing keluarga calon mempelai pria dan calon mempelai wanita. Pihak dari calon mempelai wanita akan mempersiapkan nominal yang sejatinya harus dibayarkan pihak calon mempelai pria.

Perlu ditekankan bahwa nominal Uang Panai tidak bersifat mengikat. Pihak calon mempelai pria diperbolehkan melakukan proses tawar menawar mengenai nominal Uang Panai yang harus calon mempelai pria siapkan dan dalam bentuk apakah uang panai tersebut sebaiknya dibayarkan. Apakah dalam bentuk uang tunai atau bentuk lainnya seperti tanah atau emas.

Sebagai wanita asli dari dari Suku Bugis – Makassar, secara pribadi saya memandang adanya Uang Panai adalah tradisi yang benar adanya baik untuk dilestarikan dengan catatan harus sesuai dengan asal muasal adanya uang panai tersebut.

Tidak dikait – kaitkan dengan prestise/gengsi, status, maupun bentuk intervensi lainnya terhadap nominal uang panai. Saya sangat setuju dengan ungkapan wanita adalah sosok yang memang layak untuk dihargai lebih dan dengan adanya uang panai merupakan salah satu bentuk penghargaan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita dan sekaligus sebagai maksud tersirat bentuk perjuangan calon mempelai pria untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya.

Demikian tadi serangkaian artikel yang mengenai Uang Panai. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Dina Apriyanti ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to " Pro Kontra Uang Panai : Tradisi Wajib Sebelum Mempersunting Wanita Suku Bugis Makassar "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel