Ulos Sebagai Budaya Masyarakat Batak Toba Yang Mengikuti Jaman


Pendahuluan

Indonesia sangat kaya akan budaya, dari Sabang sampai Merauke ratusan suku memiliki budaya yang berbeda. Keragaman budaya mulai dari bahasa, lagu, alat musik, tarian, kain tradisional, makanan khas dan masih banyak lagi.

Dalam tulisan ini penulis akan banyak menyuguhkan salah satu karya budaya masyarakat Batak berupa Ulos. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman penulis pernah tinggal selama delapan bulan di Tarutung (ibukota kabupaten Tapanuli Utara) dan cukup sering bertemu dan berbincang dengan banyak pembuat dan pedagang ulos.

Ulos bagi orang Batak sangat penting, dalam hal ini secara spesifik adalah Batak Toba yang berasal dari kabupaten Tapanuli Utara, kabupaten Toba Hasundutan dan kabupaten Samosir. Selain Danau Toba yang terkenal penulis ingin mengangkat ulos dalam tulisan ini.

Pada dasarnya ulos merupakan selembar kain yang ditenun. Ulos secara harafiah memiliki arti selimut atau kain. Namun dibalik arti harafiahnya ulos memiliki nilai yang sangat penting. Bukan saja sehelai kain yang bisa digantikan oleh sehelai kain yang lain.

Ulos memiliki makna yang berbeda-beda, sehingga penggunaannya berbeda-beda pula. Itu sebabnya biarpun sudah ratusan tahun digunakan hingga kini masih terus digunakan. Bagi masyarakat Batak ulos berarti memberi kehangatan, mangulosi (memberi ulos kepada seseorang) berarti menyelimuti atau memberi kehangatan.

Kehangatan merupakan nilai penting bagi masyarakat Batak. Bagi penulis Ulos dianggap sebagai karya seni rupa tradisional yang mampu memasuki perkembangan jaman sehingga bisa sebagai karya seni modern dan juga kontemporer.

Ulos Sebagai Tradisi Budaya

Pembuatan ulos memiliki proses yang dimulai dengan pemilihan benang, pewarnaan, penjemuran benang dan pengaturan warna yang disusun sedemikian rupa pada alat tenun, barulah dimulai menenun.

Proses pewarnaan biasanya dilakukan dengan sangat hati-hati karena mempengaruhi hasil akhirnya. Tadinya penulis menganggap proses ini sudah biasa saja karena ini pekerjaan sehari-hari yang sudah biasa dilakukan.

Ternyata tidak semudah itu, karena si pembuat ulos tadi bisa mengenali sifat dari pemesan. Apalagi kalau sudah biasa bekerjasama, kadangkala si penenun menolak secara halus untuk memenuhi pesanan.

Alasannya dari proses perencanaan yang dibuat antara pembuat ulos dengan pemesan tidak klop, yang mungkin hanya pembuat ulos yang mengerti situasinya bahwa dia tidak sanggup memenuhi permintaan tadi.

Kalau tetap dipaksakan biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti waktu pengerjaan lebih lama dari yang direncanakan semula dan tentu saja merugikan kedua pihak. Demikian pula benangnya selalu kusut atau putus bahkan harus mengulang dari awal lagi mulai dari pemilihan benang.

Konon menurut pembuat ulos itu ada kaitan yang susah dijelaskan dengan logika antara pemesan ulos dengan pembuatnya. Bagi sebagian pembuat ulos kegiatan menenun ini memiliki nilai sakral karena dianggap merupakan warisan nenek moyang yang sangat berharga.

Sebagian pembuat ulos melakukan puasa terlebih dahulu agar bisa fokus bekerja sesuai target dan terhindar dari efek negatis seperti dijelaskan di atas.  Ulos sebagai karya tradisional harus mengikuti pakem yang sudah ditetapkan nenek moyang orang Batak secara turun temurun.

Pakem mencakup coraknya, warnanya, cara mem-buatnya cara penggunaannya bahkan siapa pihak yang memberikan ulos dan siapa penerima tentu saja harus mengikuti tradisi. Pihak yang memberikan ulos biasanya kedudukannya lebih tinggi dari si penerima ulos, orangtua dan pihak hula-hula.

Pada dasarnya ulos memiliki tiga warna dasar yaitu merah, putih dan hitam. Sama dengan warna yang selalu dipakai oleh nenek moyang orang Batak dalam karya seni lainnya seperti ukiran kayu, tiga warna ini sangat dominan.

Kalau kita perhatikan ukiran pada rumah adat orang Batak hanya tiga macam warna ini yang digunakan. Sangat sederhana bukan? Dalam tulisan ini penulis akan membahas berbagai jenis ulos yang diberikan sesuai siklus hidup orang Batak.

Demikian pula dari ulos yang memiliki makna mistis beralih ke makna yang lebih modern yaitu simbol kasih sayang, rasa hormat dan simbol memberi doa dan harapan. Pemberian ulos sangat dipengaruhi situasi penerima ulos, apakah waktu bahagia atau kedukaan.

Semuanya itu memiliki makna yang harus diketahui sehingga penggunaannya sesuai dengan pakem. Jika tidak sesuai dengan pakem maka tidak jarang terjadi perselisian antar kerabat.

Fungsi Ulos Dalam Adat Orang Batak

Berikut ini beberapa jenis ulos yang biasa diberikan pada situasi tertentu:

1. Situasi bahagia

a. Saat lahir, masa kanak-kanak, remaja, lulus kuliah
Ulos Bintang Maratur (Bintang Beratur). Benar sekali nama ulos ini dekat sekali dengan bintang di langit, menunjukkan tempat yang tinggi, yaitu harapan atau cita-cita. Biasanya warnanya didominasi warna merah terang atau merah tua.

Intinya harus warna cerah karena ini sesuai dengan doa dan harapan untuk masa depan. Coraknya pun tentu saja seperti cahaya bintang di langit. Maka pihak yang memberi ulos ini mengharapkan atau mendoakan agar si anak lahir sehat dan berhasil dalam cita-citanya setinggi bintang di langit. Biasanya pihak yang mem-berikan ulos ini adalah pihak nenek.

Masa kanak-kanak ada kalanya orang Batak yang merantau jaraang bertemu dengan sanak terdekat yaitu orangtua, maka orangtua datang berkunjung atau ke-tika si anak pulang kampung, maka orangtua memberikan ulos kepada cucunya yang sudah berusia kanak-kanak.

Demikian juga pada usia remaja bagi yang me-meluk agama kristen maka akan ada acara sidi dari gereja. Pada acara ini si anak remaja mendapat ulos dari pihak nenek atau pamannya dari pihak ibu (termasuk hula-hula).

Satu hal yang patut digarisbawahi adalah ketika selesai kuliah, diada-kan acara ucapan syukur dimana anak yang lulus diharapkan cepat mendapat pe-kerjaan dan jodoh akan diberikan ulos. Pada semua tahap ini merupakan acara sekacita atau kebahagiaan maka ulosnya adalah yang bertandakan kebagiaan se-perti bintang maratur.

Ada keluarga yang memberikan ulos sadum untuk sanak perempuannya. Sadum biasanya banyak menggunakan warna cerah seperti ku-ning, pink, ungu, biru karena menunjukkan kebahagiaan. 

b. Saat menikah
Menikah adalah masa yang paling menentukan pada masyarakat Batak. Ulos yang diberikan kepada pengantin sudah ditentukan yaitu ragi hotang. Ulos ini diberikan orangtua pengantin perempuan kepada kdua pengantin.

Ulos ini lebih sering didominasi warna merah, kalaupun ada warna agak hitam jarang diberikan kepada pengantin. Oleh karena saat menikah merupakan masa yang penting baik bagi pengantin maupun bagi orangtuanya, seringkali untuk ulos ini dipesan sacara khusus atau ditempakan istilahnya.

Orangtua yang menempakan ulos tersebut biasanya mempunyai permintaan khusus, misalnya bahannya dari benang sutra, yang dipadu dengan benang berwarna emas. Juga bisa dipesankan ukuran khusus misalnya panjangnya dan lebarnya melebihi ukuran ulos pada umumnya.

Hal ini tidk masalah karena untuk acara pernikahan hal ini dianggap tidak menyalahi aturan, yang penting corak ulosnya tidak lari dari pakem yang berlaku. Pembuatan ulos ini dianggap sangat khusus bagi keluarga yang memesan, tentu dengan harga khusus pula.

Pada acara pernikahan orang Batak, selain pengantin keluarga pengantin laki-laki dianggap penting. Orangtua pengantin perempuan juga harus menyediakan ulos khusus yang diberikan kepada mereka. Biasanya ulos yang diberikan kepada orangtua pengantin laki-laku adalah ragi idup.

Ulos ini memiliki corak dan warna yang berbeda pula. Warna putih di bagian kiri dan kanan sangat mendominasi ulos. Ulos ini juga memiliki ukuran yang lebih besar ulos lainnya.

Bahkan untuk membuat ulos ini harus membutuhkan penyambungan beberapa bagian baru kelihatan bentuk coraknya atau dijahit karena tidak bisa dilakukan sekaligus dengan menenun. Corak dan warna yang di bagian kiri dan kanannya berbeda dengan bagian tangahnya. 

c. Ketika mengandung
Masa kehamilan pastilah masa yang ditunggu-tunggu oleh suami isteri. Dewa-sa ini sudah jarang acara tujuh bulanan dilakukan orang Batak. Akan tetapi bagi keluarga yang masih mempraktekkan karena sudah lama merindukan anak, biasanya memberkan ulos kepada pihak isteri yang mengandung dengan diiringi doa agar selamat sampai pada melahirkan.

Dengan harapan pula kalau sudah lahir nanti agar adik-adiknya segera menyusul. Biasanya ulos diberikan juga ulos yang cerah dan memberi aura positif dan sukacita bagi penerima.

d. Ketika menikahkan anak
Biasanya ayah dari kedua pengantin memakai ulos yang dilipat memanjang dan di-gantungkan di bahu untuk menunjukkan pihak yang mempunyai acara. Kenapa hanya pihak ayah yang menggunakannya, karena pihak ibu sudah menggunakan selendang satu stel dengan sarung.


e. Ketika mencapai umur tua
Umur panjang merupakan sesuatu yang diharapkan manusia termasuk orang Batak. Oleh karena itu, biasanya orang membuat acara syukuran karena masih diberi umur panjang oleh Tuhan. Biasanya pada usia 70 tahun diadakan acara yang cukup besar dan orangtua yang berulang tahun diberi ulos Ragi Idup.


2. Situasi Kedukaan

a. Jika terjadi sakit dan mengalami bencana
Bila seseorang tertimpa kemalangan atau sakit, maka  untuk memulihkan semangat diberikan ulos. Karena ulos merupakan simbol pengharapan mendoakan yang ditimpa kema-langan segera pulih lagi.

b. Ketika ada keluarga yang meninggal
Bila ada anggota keluarga meninggal, maka semua yang hadir biasanya kaum ibu biasanya memakai selendang ulos.

Jika yang meninggal adalah orangtua maka anak-anak dari pihak yang meninggal dan sudah menikah diwajibkan pakai ulos. Pada acara penguburan pihak isteri memakai selendang ulos Sibolang dan suami memakai selendang ragi hotang.


Ulos Mengikuti Perkembangan Jaman

Ulos yang tadinya merupakan hasil karya tradisi juga memiliki pergeseran dengan berbagai alasan. Masayarakat Batak sangat terbuka kepada perkembangan jaman dan juga terhadap fashion. Kalau dulu ulos hanya dipakai dalam upacara adat sesuai tradisi, maka banyak sekali orang Batak lalu memakai batik jawa dan songket dari Palembang khususnya oleh kaum ibu.

Jika tetap mempertahankan tradisi tentu saja produksi ulos tidak akan berkembang. Dengan lebih terbukanya ulos terhadap perkembangan jaman banyak kaum milenial yang terjun dalam menghasilkan produk yang lebih beragam khususnya sesuai dengan minat kaum muda.

Bagi keluarga tertentu ulos bukan hanya sekedar simbol yang telah diwariskan turun temurun, akan tetapi mempertahankan nilai seni juga harus dilakukan. Itu sebabnya diberikan perhatian khusus pada pembuatan ulos ini.

Semua ulos tadi memiliki arti dari corak dan warna, harus diperhatikan si pembuatnya. Bahkan ada si pembuat yang berpuasa lebih dahulu dulu barulah bekerja untuk menenun ulos tersebut. Setiap lembar ulos memiliki nilai seni yang tinggi.

Sebelum dilakukan penenunan ter-lebih dahulu melakukan pemilihan benang mulai dari jenisnya karena nantinya akan mempe-ngaruhi keberadaan si ulos. Tipis atau tebalnya ulos tentu saja sangat dipengaruhi oleh be-nang tadi.

Jika ulos itu ditujukan bagi seorang bayi maka diusahakan benangnya lebih halus. Pemilihan benang ini ada kalanya sesuai permintaan si pembeli agar nilai ulos itu lebih tinggi. Biasanya pemilihan benang ini juga mempengaruhi warna dan corak ulosnya.

Sema-kin halus benangnya maka akan semakin rapat hasil tenunnya dan tentu saja penger-jaannya juga membutuhkan waktu yang lebih lama. Berkembangnya jaman turut pula memengaruhi perkembangan ulos.

Teknologi turut serta menunjang karya tradisional ini makin diminati banyak orang bahkan di luar orang batak. Saat ini bisa dilihat makin banyak orang selain orang Batak yang senang menggunakan ulos sebagai fashion. 

Dengan berkembangnya teknologi berkembang pula permintaan untuk ulos ini. Hal ini tidak terlepas dari peran kaum muda yang menginginkan ulos bisa dipakai pada kegiatan sehari-hari seperti layaknya batik.

Kalau dulu hanya sedikit saja orang yang berani menggunakan ulos sebagai bahan baju maka dewasa ini malah marak sekali peng-gunaannya. Kalau dulu ulos yang ditujukan sebagai kain itu yang memiliki bahan agak kasar, kini sudah banyak ulos dengan bahan yang cocok untuk dijadikan baju.

Maka bermunculan-lah kain ulos untuk dipakai sebagai baju dan rok. Bahan benang yang digunakan lebih halus yaitu dari katun. Adapun corak yang digunakan untuk pakaian sehari-hari tentu mengikuti kondisi baju dan rok. Jadi corak dibuat supaya tetap anggun dipakai.

Bagaimana ulos telah bertransformasi dari tiga macam warna dasar tadi menjadi ba-nyak warna. Kalau dulu warna ulos hanya didominasi tiga warna yaitu putih, merah dah hitam, sekarang ini muncul warna-warna lain.

Hampir semua warna pada ulos bisa didapat sekarang. Warna ungu, kuning, hijau, pink yang dulunya tidak ada sekarang sudah muncul dengan gradasi yang indah. Kalangan anak muda tidak lagi malu untuk memakai kemeja dari bahan ulos. Sekarang ini mulai dari anak kecil hingga orang tua sudah dapat dilihat memakai baju berbahan ulos.

Dengan makin terbukanya pemakaian ulos ini sekarang bisa dilihat dari bahan pakaian untuk jas dan rompi sudah tersedia. Tentu saja ketersediaan bahan ini lebih lengkap di daerah asalnya. Itu sebabnya pada masa liburan, turis yang datang ke Tapanuli Utara disambut dengan pemberian ulos dan musik tradisional Batak.

Hal ini untuk memperkenalkan ulos sebagai budaya tradisional. Banyak juga toko lokal yang menjual ulos sebagai oleh-oleh dalam ukuran normal maupun yang mini. Itulah keindahan ulos sebagai salah satu hasil budaya di Indonesia.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Ulos. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Elfrida Sinaga ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Ulos Sebagai Budaya Masyarakat Batak Toba Yang Mengikuti Jaman"

  1. Sangat informatif, bermanfaat, menarik banget. Bagus Bou!♡

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel