Upacara Tiwah, Wujud Penghormatan untuk Yang Telah Tiada

Pulau Borneo merupakan sebuah pulau yang dilalui oleh garis Khatulistiwa, yang kemudian oleh kolonialis Barat dibagi menjadi 3 negara, yaitu Kesultanan Brunei, Negara Bagian Sabah dan Serawak dibawah pemerintahan federasi Malaysia, dan 70% sisanya adalah milik pemerintah RI yang kemudian disebut sebagai Pulau Kalimantan.

Daerah Kalimantan kemudian terbagi atas 5 provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Pulau Kalimantan memiliki iklim tropis dengan sinar matahari yang berlimpah dan curah hujan yang besar sehingga wilayahnya sebagian besar ditutupi oleh hutan-hutan tropis yang lebat. Selain hutan tropis, juga banyak ditemui sungai-sungai besar maupun kecil, danau dan rawa di bagian pesisirnya.


Gambar 1. Suku Dayak 

Suku asli yang kemudian hidup berkelompok dan tinggal di daerah Kalimantan disebut dengan Suku Dayak. Menurut seorang penjelajah yang bernama J. Thomas Linblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman.

Hal ini sesuai dengan suku Dayak yang pada waktu itu tinggal di pedalaman dan sekitar sungai. Suku Dayak sendiri berasal dari Ras Mongoloid yang pernah mengembara dari Asia menuju pulau Kalimantan ketika benua Asia dan pulau Kalimantan masih merupakan bagian Nusantara yang menyatu.

Hal ini dapat terlihat dari warna kulit penduduk suku Dayak yang cerah sedikit kekuningan dan mata yang sipit. Suku Dayak sendiri terbagi menjadi 7 suku besar dan masih terbagi lagi menjadi 405 suku kecil/subsuku.

Salah satu subsuku Dayak adalah Suku Dayak Ngaju atau Biaju yang merupakan suku Dayak asli Kalimantan Tengah. Penduduk daerah ini dahulunya menganut sistem kepercayaan lama yang diperoleh secara turun-temurun, dikenal dengan istilah Kaharingan ketika agama lain belum memasuki pulau Kalimantan.

Kaharingan sebenarnya berasal dari kata haring yang dalam bahasa Dayak Ngaju berarti ada dengan sendirinya. Pada intinya agama Kaharingan percaya bahwa segala benda dan makhluk hidup memiliki jiwa (gana, hambaruan), dan ada Satu Tuhan yaitu Ranying Hatala (Mahatara) Langit yang menciptakan alam semesta beserta isinya.

Kebudayaan khas suku Dayak sangat beragam, mulai dari senjata tradisional, rumah adat, hingga adanya tradisi atau upacara khusus. Dari sekian banyak upacara yang dilakukan yang berhubungan dengan lingkaran hidup manusia, maka upacara kematian adalah salah satu upacara yang dianggap cukup penting dalam masyarakat.

Hal yang menjadi tema utama dalam upacara kematian adalah melambangkan suatu proses pemisahan antara orang yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal. Upacara kematian merupakan titik puncak dari semua upacara yang dilakukan dalam rangka perjalanan hidup seseorang.

Dalam masyarakat Dayak Ngaju, terdapat semacam kewajiban moral dan sosial untuk melaksanakan upacara Tiwah. Upacara Tiwah sendiri adalah tradisi upacara pemakaman masyarakat Dayak Ngaju penganut kepercayaan Kaharingan dengan tujuan mengantakan arwah kerabat atau leluhur yang sudah meninggal dunia agar dapat pergi ke tempat yang kekal dan abadi.

Upacara Tiwah mengandung arti penghormatan terakhir terhadap orang yang meninggal. Upacara ini biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa hanya tulang-belulang jenazah tersebut. Tulang-tulang tersebut nantinya akan disucikan dan dipindahkan dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama Sandung (semacam rumah kecil khusus).








Gambar 2. Sandung (Sumber : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)


Melaksanakan Upacara Tiwah bukanlah pekerjaan yang mudah karena diperlukan persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Selain itu, rangkaian prosesinya dapat memakan waktu berhari-hari bahkan bisa mencapai satu bulan lebih lamanya. Oleh karena itu, upacara Tiwah dapat diselenggarakan oleh keluarga secara sendiri-sendiri, namun dapat pula dilakukan bersama-sama oleh sekelompok keluarga atau bahkan oleh satu desa. Diawali dengan musyawarah para Bakas Lewu (saudara dari jasad yang telah meninggal), yang hasilnya diumumkan dalam waktu dekat akan diadakan Upacara Tiwah, sehingga siapapun yang berniat meniwahkan keluarganya dapat mengetahui dan dapat turut serta. Dengan terlibatnya banyak individu dalam menyelenggarkan Upacara Tiwah, maka dapat dikatakan bahwa Upacara Tiwah tersebut adalah interaksi sosial besar dimana seseorang memiliki kesempatan untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Upacara Tiwah mampu mempertemukan berbagai kepentingan yang berasal dari berbagai golongan dan lapisan sosial. Upacara Tiwah biasanya berlangsung setelah musim panen padi, mengingat pada saat ini orang-orang memiliki bahan pangan yang cukup dan setelah musim panen, orang-orang memiliki tenggang waktu yang cukup untuk menyiapkan upacara.
Dalam perkembangan lebih lanjut, agama Kaharingan kemudian bergabung ke dalam kelompok agama Hindu sesuai dengan peraturan Pemerintah Indonesia yang mewajubkan penduduk dan warga negaranya untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia, Sehingga secara resmi sejak tanggal 20 April 1980, megingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual dalam agama Hindu, istilah agama Kaharingan telah tidak digunakan lagi dan berubah menjadi agama Hindu. Upacara Tiwah juga tidak luput dengan adanya perkembangan zaman. Misalnya, bentuk peti mati yang lebih sederhana terbuat dari papan kayu biasa dan tidak diukir, adat memotong kepala musuh (mengayau) untuk keperluan upacara yang saat ini diganti dengan sapi, sandung yang banyak terbuat dari semen, batu dan pasir.
Terlepas dari adanya perubahan-perubahan, Upacara Tiwah oleh suku Dayak Ngaju masih dijalankan dan dihayati dengan benar. Upacara tersebut tetap disesuaikan dengan perkembangan zaman masa ini, dengan tetap berpedoman pada model-model yang lama agar kesakralannya masih dirasakan.

Referensi

  • Atmojo, B. L. A., dkk. 2016. Upacara/Ritual Tiwah Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Makalah Budaya Nusantara, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University : Bandung
  • Dyson L, dan M. Asharini. 1981. Tiwah Upacara Kematian pada Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia : Jakarta 
  • Saputri, C. I., dkk. t.t. Perancangan Film Dokumenter Tradisi Keagamaan Upacara Tiwah Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra : Surabaya  
  • Foto : brilio.net


Demikian artikel karya Eku Hafsari K yang membahas mengenai Upacara Tiwah Dayak, semoga dapat menjadi bahan referensi bagi sobat budaya sekalian. Terimakasih

0 Response to "Upacara Tiwah, Wujud Penghormatan untuk Yang Telah Tiada"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel