Wae Rebo: Serpihan Surga dan Warisan Dunia di Flores yang Jarang Diketahui Publik




“Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa”
– Rayuan Pulau Kelapa (Ismail Marzuki)
Tanah Indonesia, jambrud khatulistiwa yang menyimpan banyak sekali keindahan rupa serta budaya. Keindahannya selalu menantang siapa saja untuk mengarungi setiap jengkal tanahnya. Siapa yang tidak kenal dengan istilah Indonesia adalah negeri beribu pulau? Bukan hanya omong kosong semata, namun jua faktanya memang terhampar ribuan pulau indah yang mengelilingi Indonesia.

Tahun lalu, Indonesia sempat dirundung pilu dengan terbakarnya salah satu cultural heritage, Gurusina. Salah satu kampung adat yang menyajikan keindahan alam, kerupawanan adat, sejarah lekat dan pesona wisata.

Flores memang selalu menyimpan banyak sekali kekaguman dan hal-hal yang memukau. Meskipun kejadiaan nahas menimpa Gurusina, tidak mengurangi keindahan wisata budaya yang ada di selainnya.

Cerminan Kekayaan Budaya dari Desa Wae Rebo

Masih di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Kampung Wae Rebo yang lebih dari sekadar destinasi wisata menjadi desa terindah yang ada di Indonesia. Kawasan hijau yang masih asri dengan pepohonan segar, rumah-rumah adat yang masih kokoh berdiri, hingga kebudayaan yang masih tersimpan dan dilakukan dengan pasti serta rapi.

Terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut yang menjadikan desa ini layaknya kepingan surga dunia di atas awan. Saat pagi tiba, kabut-kabut tipis menyelimuti sekelilingnya di sela-sela pohon yang hijau. Jika matahari mulai menyapa di atas kepala, hijau cerah yang menyegarkan akan meliputi setiap ruang pandangan.

Banyak sekali cerminan kekayaan budaya yang ada di Desa Wae Rebo ini, apa sajakah itu?

Bangunan Adat Khas

Desa tidak akan lengkap tanpa rumah-rumah yang dijadikan tempat berlindung masyarakatnya. Begitu pun dengan Desa Wae Rebo ini. Terdapat 7 bangunan rumah adat yang masih tradisional. Mempunyai bentuk kerucut dengan material bangunan dari kayu-kayu dan bahan alam lainnya.

Rumah ini cukup tinggi, terbentuk sebanyak 5 lantai dengan ukuran tinggi keseluruhan sekitar 15 meter. Masyarakat menyebut rumah adat ini dengan nama Mbaru Niang. Tidak sembarang rumah, sebagai rumah adat khas Flores, namun bangunannya akan sangat jarang sekali ditemukan.

Siapa sangka, rumah adat ini pun memang hanya terdapat di Desa Wae Rebo ini saja. Sangat sulit ditemukan di wilayah-wilayah Flores lainnya. Tak heran, walau desa ini terdapat di pegunungan sekalipun, banyak sekali masyarakat hingga wisatawan yang rela mendaki untuk mengunjunginya.

Hari Spesial yang Sakral

Tak hanya bangunan rumah yang sangat khas, suguhan wisata budaya yang sangat kental pun akan sangat mungkin ditemukan di sini. Salah satunya adalah perihal hari spesial yang memang selalu dispesialkan oleh penduduk di Desa Wae Rebo.

Ketika bulan November menyapa, warga desa akan disibukkan dengan perayaan Upacara Adat Penti. Merupakan perayaan yang ditujukan sebagai rasa syukur atas hasil panen yang didapatkan oleh masyaraat selama satu tahun penuh.

Ucapan rasa syukur ini pun dilakukan seraya memohon perlindungan serta keharmonisan bagi setiap warga dan kehidupan. Ketika upacara dilangsungkan, semua penduduknya akan mengenakan pakaian adat yang khas lengkap dengan semua perlengkapan serta aksesorisnya. Tentunya, berkunjung saat adanya perayaan upacara adat ini, akan memberikan makna dan kesan tersendiri yang sangat luar biasa.

Penduduknya adalah Keturunan Minang

Pernahkah terpikir bahwa penduduk yang menempati salah satu desa khas Flores, ternyata bukan keturunan asli Flores? Bukan isapan jempol, rupanya penduduk yang ada di Desa Wae Rebo ini adalah keturunan Minang, Sumatera Barat, lho. Seperti yang dilansir oleh Kompas.com dan hasil kunjungan langsung, bahwa memang masyarakatnya sering mengklaim tersendiri perihal asal keturuan mereka.

Mulanya, nenek moyang penduduk Desa Wae Rebo adalah penduduk rantau dari Minangkabau yang kemudian berdomisili di Manggarai Barat, NTT. Sebagai perantau, tentu tempat tinggalnya nomaden atau selalu berpindah-pindah. Sampai suatu saat, sang nenek moyang menetapkan posisi tinggalnya di kawasan yang saat ini menjadi desa surga Wae Rebo. Meskipun demikian, mereka sangat lekat dengan budaya Flores bahkan mengembangkannya.

Tak Hanya Tempat Wisata, Wae Rebo Memperkenalkan Arti Persatuan Indonesia
Wae Rebo, memang menyimpan banyak sekali pesona yang disuguhkan. Dari mulai bangunan, keindahan alam, hingga penduduknya.

Tak heran, Wae Rebo menjadi salah satu situs warisan terbaik dunia yang diklaim oleh UNESCO. Penyematan ini rupanya sudah cukup lama, tepatnya pada tahun 2012 lalu. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memang adalah negara kaya dan pantas mendapatkan penghargaan tersebut.

Tak hanya masalah keindahan dan keunikan yang disuguhkan desa surga di atas awan, namun juga ada makna persatuan yang tersimpul dengan rapi dan manis dengan kehadiran Desa Wae Rebo ini. Apakah itu?

Bendera Pusaka Terkibar di Atas Bangunan Rumah Adat
Berada di pedalaman, jarang terjamah masyarakat, bahkan tidak terjamah teknologi. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak akan ditemukannya signal digital atau ponsel yang bisa didapatkan saat berada di perkampungan ini.

Meskipun bagi sebagian orang, kampung ini ketinggalan zaman, bukan kota modern, dan tidak hits dengan teknologi, tapi siapa sangka bahwa jiwa nasionalisme yang cinta tanah airnya sangat tinggi?

Hal ini bisa ditemukan dengan adanya pengibaran bendera merah putih yang selalu terpasang dengan rapi di atas atap rumah adat warga Desa Wae Rebo. Ketika Upacara Adat Penti dilakukan, tidak hanya perayaan, ucapan rasa syukur, atau kegiatan upacara adat lainnya, melainkan juga dengan pengingatan masyarakat akan tanah airnya. Tersimpul dari Sang Pusaka yang berkibar dengan gagah, menandakan bahwa masyarakatnya sangat menjunjung keperkasaan tanah airnya.

Beda Keturunan, Bukan Berarti Tidak Menghargai Pribumi dan Kekayaannya

Tidak hanya perihal bendera merah putih yang terkibar sebagai tanda cinta penduduknya terhadap Indonesia, namun juga pada sifat dan sikap masyarakatnya yang selalu menjunjung persatuan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa masyarakat yang mendiami desa wisata di atas awan ini, didominasi oleh masyarakat keturuan suku yang bukan asal letak geografis mereka.

Suku Minang dan Flores adalah dua suku yang berbeda, dua tempat yang berbeda, bahkan letaknya sangat jauh. Meskipun demikian, apakah lantas masyarakatnya mengembangkan budaya Minang di Flores? Tentu tidak. Justru mereka dengan senang hati melestarikan budaya Flores di sana. Bahkan, untuk masalah rumah adat saja, hanya Desa Wae Rebolah yang memilikinya.

Dengan hal tersebut, membuka pandangan bahwa kecintaan pendudukan Wae Rebo akan persatuan sangat tinggi. Keberagaman suku, adalah sebuah pelajaran agar bisa saling menjaga dan melengkapi.
Beda suku, beda keturuan, bukan menjadi alasan untuk tidak menghargai persatuan dan pribumi. Dan sikap yang seperti inilah, yang harus ditanamkan bahkan dipelajari oleh setiap masyarakat Indonesia.

Tanpa Teknologi, Penduduknya Tetap Hidup Harmonis

Di belahan pulau lain, masyarakat Indonesia sangat mengagungkan teknologi. Semua kegiatan dilandaskan akan perkembangan dan pertumbuhan teknologi yang semakin pesat setiap waktunya. Sedikit saja kecolongan, masyarakat akan dibuat frustasi olehnya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi penduduk di Wae Rebo.

Meski hidup tanpa hingar bingar teknologi dan modernitas, namun kehidupan penduduknya sangat harmonis dan rukun. Semuanya hidup dengan mengedepankan kerukunan serta efektifitas bermasyarakat secara tradisional.

Dan hal tersebut, memberikan dampak positif bagi hubungan antar penduduknya. Kebahagiaan yang mereka rasakan sangat alami, tidak ada yang dibuat-dibuat, dan bahagianya mereka rasakan sama-sama. Begitu pun hal pilu yang akan dirasakan secara bersamaan karena sisi psikologis mereka lebih terpaut.

Dengan beberapa hal mengenai Desa Adat Wae Rebo, kehadirannya bukan hanya menjadi destinasi wisata budaya yang sangat indah. Namun juga dijadikan destinasi wisata pola pikir, pola prilaku, dan pola psikis bagi masyarakat.

Wae Rebo banyak memberikan pengalaman dan pembelajaraan luar biasa bagi siapa saja yang mendatanginya.Meskipun perlu upaya ekstra untuk sampai di sana, namun keindahan alam yang memesona, kekayaan budaya yang memukau, dan kebesaran hati yang luar biasa, membuat rasa lelah jadi hilang.

Ketergantungan akan teknologi menjadi pudar karena terbias oleh kehidupan masyarakat yang memberi kenyamanan. Semuanya terangkum menjadi satu dalam kehidupan penduduk Wae Rebo yang sulit dilupakan.

Berikut tadi adalah serangkaian tulisan dai Silvi Novitasari mengenai Wae Rebo Flores. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian dalam menambah wawasan mengenai ilmu budaya. Terimakasih.

0 Response to "Wae Rebo: Serpihan Surga dan Warisan Dunia di Flores yang Jarang Diketahui Publik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel