Warak Ngendhog: Simbol Keragaman Kota Semarang


Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki banyak kebudayaan. Setiap daerah di Indonesia mempunyai kebudayaan daerah yang menunjukkan ciri khas daerah tersebut. Jakarta dengan Betawi-nya, Jawa Barat dengan Sunda-nya, dan daerah lain dengan kekhasannya masing-masing.

Tak terkecuali Semarang, Semarang sebagai salah satu kota yang disebut sebagai kota budaya, pastinya memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain. Lumpia, Lawang Sewu, Tugu Muda? Pasti semua orang tau. Kalau Warak Ngendhog?

Semarang sebenarnya memiliki banyak kebudayaan yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Salah satunya adalah Warak Ngendhog. Warak Ngendhog sendiri terdiri dari 2 kata, warak yang dalam bahasa Arab berarti suci, dan ngendhog yang dalam bahasa Jawa berarti bertelur.

Secara keseluruhan, Warak Ngendhog memiliki makna bahwa siapa yang menjaga kesucian di bulan Ramadan, maka akan menerima (menelurkan) pahala pada hari lebaran. Warga Semarang mengenalnya sebagai makhluk mitos yang dapat menjaga dan melindungi kota Semarang.

Wujud Warak Ngendhog ini terdiri dari beberapa bagian binatang yang berbeda-beda. Menggunakan wujud buroq khas etnis Arab, kepala naga khas etnis Cina, dan kaki kambing khas etnis Jawa, warak melambangkan bahwa masyarakat Semarang yang terdiri dari berbagai etnis tersebut hidup berdampingan secara selaras dan harmonis.

Sejarah Warak Ngendhog

Warak Ngendhog dikenal sudah ada di tengah masyarakat Semarang sejak Ki Ageng Pandanaran mendirikan Kota Semarang. Awalnya, warak merupakan mainan anak-anak yang banyak bermunculan di saat dugderan, yaitu saat perayaan untuk menyambut dan memeriahkan datangnya bulan Ramadan.

Warak juga sering ditampilkan dalam bentuk patung yang digunakan sebagai objek dalam festival-festival kebudayaan dan tradisi di Semarang. Bahkan sebagai salah satu simbol Kota Semarang, Warak Ngendog telah dijadikan monumen di salah satu taman di Jalan Pandanaran.

Sampai sekarang, Warak Ngendhog masih tetap lestari di kalangan masyarakat kota Semarang sehingga masih sering digunakan dalam berbagai kegiatan. Salah satu contohnya, baru-baru ini, “Si Warak” sebagai adaptasi dari Warak Ngendhog digunakan menjadi logo dan maskot ASEAN Schools Games XI 2019 yang digelar di Semarang pada tanggal 17-25 Juli lalu.

Warak Ngendhog bukan hanya patung, bukan hanya simbol, Warak Ngendhog adalah pemersatu masyarakat Semarang. Warak Ngendhog masih lestari karena masyarakat yang menjaganya dan selalu percaya terhadap kebudayaan. Maka, kita sebagai generasi muda sudah sepatutnya terus melestarikan Warak Ngendhog sebagai salah satu kebudayaan Kota Semarang, karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Warak Ngendhog. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Febby Dias ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Warak Ngendhog: Simbol Keragaman Kota Semarang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel