Kepunahan Wayang Kulit Madura


Hai  Sahabat  Budaya, pernah nggak  mendengar kata wayang? Apakah ada yang pernah menonton pertunjukkan wayang?  Atau malah menjadi seorang dalang? Yuk kita memperdalam pengetahuan kita mengenai wayang.

Wayang adalah suatu media informasi berupa karakter tertentu. Wayang berasal dari kata bayang artinya bayangan. Wayang akan bersiluet menjadi hitam bila dilihat dari belakang layar. Nah, uniknya wayang memiliki banyak model.

Mulai model Banyumasan, Jawa Timuran, Yogyakartan, dan Surakartan. Tetapi, apakah Sahabat Budaya pernah mendengar wayang madura? Atau malah kalian berasal dari Madura? Yuk memahami tema kali ini.

Wayang Madura adalah suatu jenis wayang klasikal yang mempergunakan Bahasa Madura dan menggunakan karakter klasik yang dirubah menjadi gaya Madhureh yang sangat indah.  Wayang madura sudah ada sebelum tahun 1700.

Hipotesis ini dikuatkan dengan adanya wayang kulit bercat emas yang diperkirakan usianya mencapai tiga ratus tahun. Wayang kulit itu menunjukkan tokoh Brahala. Brahala adalah salah satu contoh raksasa dalam pewayangan yang ditunjukkan ketika terjadi tiwikrama atau pengejawantahan raksasa. Brahala ini cukup terawat walau menunjukkan beberapa cat yang sudah mengelupas.

Perubahan tampak sekali dalam penyelenggaraannya. Dalam penggunaan bahasa daerah ini, digunakan gaya Sumenep yang cenderung dinyanyikan, sehingga menghasilkan suara yang meliuk-liuk.

Dengan gaya yang dihasilkan cenderung bernada, maka menajamkan indra pendengaran kita.
Dalam gaya wayang pula, beberapa ornamen diperlihatkan berbeda dengan yang lain. Contohnya saja seperti sewek yang dipakai oleh wayang.

Sewek yang dipakai bermodel batik madura. Tak hanya wayang yang berubah ornamen, Dalang akan memakai surjan gelap (bahkan kadang hitam) dan memakai blangkon bergaya udheng, sehingga blangkon tidak mengembang di belakang, tetapi mempunyai 2 potong kain yang tegak seperti sebuah gunung. Dengan adanya perubahan tersebut, tentu mengubah perwujudan karakter asli, baik wayang maupun .

Wayang madura dan wayang topeng madura memiliki perbedaan. Dalam segi penyampaian, wayang madura menggunakan kulit kerbau/sapi, sedangkan wayang topeng menggunakan tubuh seseorang. Dari segi penceritaan, dalang turut menjadi peran dalam wayang topeng madura sebagai  narator.

Wayang madura tetap dalam perannya, dalang menjadi peranan yang menggerakkan wayang. Dari segi klenengan, wayang madura dan wayang lainnya memiliki perbedaan. Klenengan yang ada lebih cepat temponya dan memiliki waranggana yang lebih berani dalam menaikkan/menurunkan nada yang ada.

Bahkan, pertunjukkannya memiliki waranggana priya bila diperlukan. Dapat terlihat sekali, bahwa terjadinya perbedaan ini, menunjukkan perpecahan gaya seni pada pulau/otonomi yang berbeda.
Perbedaan ini memberikan penunjuk bahwa seharusnya wayang madura mendapat tempat yang tepat.

Bahkan, bilamana diadakan sebuah acara, diharapkan wayang madura menjadi primadona di pulaunya sendiri. Sebelum wayang ini punah, sudah sepatutnya kita menjaga budaya yang elok sejarah dan keunikannya.

Sudah sebaiknya kita menjadi khalayak yang mengerti dan memahami budaya di kota kita sendiri. Bahkan, kita dapat mempelajari seni budaya di kota lain. Mari, kita satukan tekad dan melakukan perawatan intensif terhadap budaya langka ini.

Semoga tulisan mengenai Wayang Kulit Madura yang ditulis oleh Christopher Jason ini dapat bermanfaat dan menginspirasi kita untuk terus melestarikan budaya di negeri Indonesia tercinta. Semangat Ilmu Budaya !

2 Responses to "Kepunahan Wayang Kulit Madura"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel