Gunungkidul: Nature Paradise Or Culture Paradise?


Pariwisata adalah keseluruhan rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan manusia yang melakukan perjalanan atau persinggahan sementara dari tempat tinggalnya, ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan tanpa bermaksud mencari nafkah (Gunn, Clare A: 2002).

Indonesia memiliki potensi yang besar dari sektor pariwisata yang dapat digunakan untuk menunjang pemasukan bagi devisa negara. Devisa negara sendiri dapat dihasilkan dari masuknya pendapatan daerah, yang diantaranya adalah dengan mengembangkan potensi obyek wisata yang ada di tiap-tiap daerah.

Saat ini trend pariwisata mengalami perubahan, dari yang sebelumnya yaitu pariwisata konvensional berubah menjadi pariwisata minat khusus. Pada pariwisata minat khusus wisatawan cenderung lebih nenghargai lingkungan, alam, budaya dan atraksi secara spesial.

Salah satu pariwisata minat khusus adalah pariwisata budaya yaitu kegiatan berwisata yang memanfaatkan perkembangan potensi hasil budaya manusia sebagai obyek daya tariknya. Jenis wisata ini dapat memberikan manfaat dalam bidang sosial budaya karena dapat membantu melestarikan warisan budaya sebagai jati diri masyarakat lokal yang memiliki kebudayaan tersebut.

Dewasa ini, pariwisata budaya berkembang dengan cepat karena adanya tren baru di kalangan wisatawan yaitu kecenderungan untuk mencari sesuatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan. Bentuk kegiatan wisata budaya salah satunya adalah dengan mengunjungi desa wisata berbasis budaya.

DIY sebagai salah satu wilayah provinsi yang sekaligus destinasi pariwisata di Indonesia yang memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Jumlah wisatawan yang mengunjungi DIY pada tahun 2017 sebanyak 5.229.298 orang yang terdiri dari wisatawan nusantara 4.831.347 orang dan wisatawan mancanegara 397.951orang. Secara keseluruhan jumlah tersebut meningkat sebesar 14,94% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 4.549.574 orang.

Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Gunungkidul memiliki posisi strategis dalam konteks pembangunan kepariwisataan nasional maupun regional DIY-Jawa Tengah. Kawasan Karts Gunungkidul merupakan salah satu daya tarik wisata unggulan di DIY yang memiliki karakter khusus sebagai wilayah yang terbentuk dari struktur alam batuan karts dan menciptakan gugusan Gunung Sewu dengan keunikan ekosistem dan juga kehidupan budaya di dalamnya.

Sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Gunungkidul Tahun 2014-2025, strategi pembangunan daya tarik wisata KSPN Karst Gunungkidul dan sekitarnya juga diwujudkan dalam 6 (enam) Kawasan Strategi Pariwisata (KSP), yaitu


  1. KSP I Daya Tarik Wisata unggulan alam pantai dengan pendukung wisata budaya, 
  2.  KSP II Daya Tarik Wisata unggulan alam pantai dengan pendukung wisata kuliner, 
  3. KSP III Daya Tarik Wisata unggulan alam pantai dengan pendukung wisata petualangan, 
  4. KSP IV Daya Tarik Wisata unggulan alam pegunungan dengan pendukung wisata pendidikan, konversi dan petualangan, 
  5. KSP V Daya Tarik Wisata unggulan alam bentang alam karts dengan pendukung wisata petualangan, dan 
  6. KSP VI Daya Tarik Wisata unggulan alam pegunungan dengan pendukung wisata budaya. 


Strategi pembangunan pengembangan manajemen destinasi untuk menciptakan Daya Tarik Wisata berkualitas dan berdaya saing, serta pengembangan upaya konservasi untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya pariwisata.

Adapun potensi wisata di KSPN Karts Gunungkidul terbagi menjadi 3 (tiga) Daya Tarik Wisata, yaitu (1) Daya Tarik Wisata Alam, (2) Daya Tarik Wisata Budaya, dan (3) Daya Tarik Wisata Buatan. Strategi pengembangan Daya Tarik Wisata Buatan adalah dengan mengembangkan Desa Wisata dan Budaya.

KSPN Karst Gunungkidul memiliki 14 (empat belas) desa budaya dari 144 desa yang ada di KSPN Karst Gunungkidul. Desa budaya tersebut adalah Desa Putat, Desa Katongan, Desa Semanu, Desa Semin, Desa Jerukwudel, Desa Kepek, Desa Kemadang, Desa Giring, Desa Girisekar, Desa Bejiharjo, Desa Wiladeg, Desa Tambakromo, Sundak dan Turunan.

Tiap-tiap desa memiliki potensi budaya yang berbeda satu sama lain sehingga strategi pengembangannya pun berbeda. Percepatan pengembangan suatu desa budaya selain dari keunikan atraksi budaya yang ditawarkan, juga dipengaruhi faktor eksternal seperti aksesbilitas dan keberadaan fasilitas penunjang yang ada.

Kondisi aksesbilitas dan fasilitas penunjang akan mempengaruhi desa budaya dikatakan sudah maju atau belum. Wilayah yang memiliki aksesbilitas mudah dijangkau dan didukung dengan fasilitas penunjang yang lengkap akan menjadikan frekuensi aktivitas wisata di tempat tersebut tinggi. Tingginya aktivitas wisata akan berbanding lurus dengan peningkatan perekonomian di desa tersebut.

Wilayah desa budaya yang seperti ini sudah dapat dikatakan maju karena keberadaan wisata budaya memiliki urgensi yang tinggi terhadap pembangunan desa tersebut. Dari 14 desa budaya yang ada di KSPN Karst Gunungkidul terdapat 5 desa budaya yang masuk dalam kategori maju yaitu Desa Putat, Desa Jerukwudel, Desa Bejiharjo, Desa Wiladeg dan Desa Tambakromo.

Gambar: Peta Persebaran Desa Budaya Kabupaten Gunungkidul Tahun 2019
(Sumber : Citra Landsat Google Earth)

Desa Putat merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Desa Putat memiliki luas sebesar 667.335 ha dan memiliki jarak 20 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Gunungkidul yaitu Wonosari.

Selain itu, Desa Putat juga menyandang predikat sebagai desa agraris dan desa wisata dengan potensi kerajinan tangan dan buah-buahan yang menjadi ikon unggulan. Wisata Bobung merupakan wisata unggulan dari Desa Putat. Bobung sendiri merupakan salah satu padukuhan yang ada di Desa Putat dengan jarak 12 km dari pusat pemerintahan yaitu Wonosari.

Wisata Bobung diresmikan sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2005 sebagai desa wisata kerajinan sesuai dengan Perda DI Yogyakarta No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah, pasal 15 ayat 3 bahwa Kawasan Patuk dan sekitarnya dikembangkan sebagai kawasan desa wisata kerajinan dan agro-ekowisata.

Pada pasal 17 ayat 13 dari peraturan yang sama disebutkan bahwa salah satu tempat yang termasuk dalam pengembangan Kawasan Patuk dan sekitarnya adalah Desa Wisata Bobung sebagai kawasan Desa Wisata Kerajinan Batik Kayu. Desa wisata Bobung memiliki daya tarik utama yaitu sebagai sentra kerajinan kayu karena sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pengrajin kayu.

Kerajinan kayu di Bobung meliputi kerajinan topeng kayu, batik kayu dan patung kayu. Selain menikmati dan membeli produk kerajinan, wisatawan juga dapat ikut langsung merasakan bagaimana proses pembuatan kerajinan dari awal sampai akhir serta terdapat homestay sebagai fasilitas penginapan untuk para wisatawan yang ingin mengeksplorasi lebih dalam potensi budaya di Bobung.

Desa Jerukwudel merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunungkidul dan memiliki jarak 34 km dari pusat pemerintahan Wonosari. Ikon budaya dari desa ini adalah kesenian ketoprak yang menggambarkan asal usul desa ini terbentuk dan dikenal sebagai “Kethoprak Mataram Sigro Budaya Desa Jerukwudel”.

Kesenian ini bahkan ditampilkan pada Pagelaran Seni Kethoprak dalam rangka gelar budaya yang diadakan tiap setahun sekali dengan mengundang pegiat pelestari budaya dari Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul.

Desa Bejiharjo merupakan salah satu desa di Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul dan memiliki jarak 6,6 km dari pusat pemerintahan Wonosari. Desa Bejiharjo memiliki luas 1.825, 48 ha, yang terdiri dari area persawahan seluas 49, 51 ha, tanah pekarangan seluas 759, 04 ha, tegalan seluas 951,50 ha dan lain-lain seluas 65,42 ha.

Kekayaan alam yang ada di desa ini sangat melimpah, salah satu contohnya adalah desa ini mendapatkan pasokan air bersih dari sumber air bawah tanah dan beberapa sungai yang ada di wilayah tersebut sedangkan untuk wilayah lain sulit untuk mendapatkan air bersih dan buruknya dilanda bencana kekeringan. Selain memiliki kekayaan potensi alam, Desa Bejiharjo juga menyimpan kekayaan budaya, sejarah dan edukasi.

Beberapa kekayaan sejarah dan budaya yang saat ini makin dikenal oleh masyarakat luas diantaranya sentra kerajinan Blangkon, Khazanah Budaya yang teramat langka yaitu Wayang Beber yang saat ini di seluruh dunia Artefak Wayang Beber hanya tersisa dua, yang salah satunya terdapat di Desa Bejiharjo dan yang satu lagi ada di Pacitan Jawa Timur.

Di desa ini pula terdapat situs Purbakala Sokoliman yang menjadi warisan ilmu pengetahuan terkait dengan sejarah manusia purba, serta ada juga monumen yang menjadi penanda sejarah peristiwa pengeboman Belanda atas Desa Bejiharjo. 

Desa Bejiharjo juga memiliki khasanah seni budaya dan seni kuliner yang terbilang cukup lengkap. Beberapa sentra kerajinan (seperti Blangkon, Tas dan Batu Putih) dapat kita temui di desa ini. Upacara adat dan makanan khas yang bervariasi semakin mendukung potensi pariwisata di desa ini.

Dengan banyaknya potensi wisata yang ada di desa ini, Dinas Pariwisata DI Yogyakarta mencanangkan Desa Bejiharjo akan menjadi desa mandiri pangan, budaya dan wisata pada tahun 2021 mendatang.

Keberhasilan pariwisata di Desa Bejiharjo tidak luput dari letaknya yang strategis dekat dengan pusat pemerintahan Wonosari sehingga frekuensi aktivitas wisata di wilayah tersebut lebih terjangkau dan intensif.

Desa Wiladeg merupakan salah satu desa di Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul dan memiliki jarak sekitar 5 km dari pusat pemerintahan Wonosari. Potensi wisata budaya di Desa Wiladeg terdiri dari 3 jenis kegiatan utama yaitu kesenian, kerajinan dan pengolahan pangan.

Potensi kesenian di Desa Wiladeg bisa dikatakan cukup lengkap seperti adanya kerawitan, tarian daerah, campursari, sholawatan, hadroh dan reog. Potensi kerajinan yang menjadi unggulan Desa Wiladeg adalah ukiran berupa meubel, kerajinan sangkar burung dan anyaman bambu (seperti tenggok, piring dan tampah).

Sedangkan untuk pengolahan pangan terdapat olahan tempe berupa keripik, peyek, onde-onde dan terdapat pusat oleh-oleh bakpia khas daerah ini yaitu Bakpia Rizki hasil dari pemberdayaan dan pelatihan masyarakat oleh Pemda.

Salah satu tradisi Desa Wiladeg yang juga memikat para wisatawan adalah tradisi rasulan yang merupakan salah satu bagian dari tradisi rasulan yang ada di Gunungkidul. Pelaksanaan tradisi rasulan dilaksanakan setahun sekali saat musim panen tiba, yang dilaksanakan Jum’at Legi (nama pasaran jawa).

Tradisi rasulan dilaksanakan di Balai Desa, jalan-jalan, kali (sungai) dan tempat-tempat yang dianggap keramat oleh warga Desa Wiladeg. Pelaksanaan rasulan dilakukan secara tiga hari berturut-turut dan tradisi ini melebihi kemeriahan-kemeriahan hari besar lainnya seperti lebaran dan natal serta masyarakat luar kota pun datang jauh-jauh untuk menikmati suasana tradisi rasulan di Desa Wiladeg.

Desa Tambakromo merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul dan memiliki jarak 35 km dari pusat pemerintahan Wonosari. Desa Tambakromo memiliki potensi alam dan budaya yang luar biasa.

Selain potensi alam, Desa Tambakromo juga menyimpan banyak kekayaan seni dan budaya. Setiap dusun memiliki kesenian masing-masing seperti, kesenian Tayub, Reog Kreasi Baru (Reog Kalasutra) dan Tradisional (Reog Mego Mendung), Bersih Dusun (Rasulan), Trebang, Ledek, Gejog Lesung, Toklik, Tari Gambiranom dan Pintara Modern Dance yang merupakan tari hasil binaan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Desa Tambakromo juga merupakan rintisan Desa Budaya di Kabupaten Gunungidul, yang mendapat binaan langsung dari Provinsi DI Yogyakarta. Keberadaan Desa Budaya di KSPN Karts Gunungkidul untuk waktu mendatang diproyeksikan terus meningkat.

Hal ini juga didukung oleh usaha Pemerintah Daerah Gunungkidul dan DI Yogyakarta untuk terus meningkatkan dan memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh daerah ini ke masyarakat luas baik wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara.

Salah satu bentuk usaha Pemda untuk mendorong kemajuan desa budaya adalah dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal untuk meningkatkan nilai ekonomi suatu produk atau jasa serta cara pemasarannya. Kiat-kiat ini dilakukan Pemda dengan tujuan agar bermunculan Desa Mandiri Pangan, Budaya dan Wisata tahun 2021 mendatang.

Demikianlah tulisan karya Anggita Puspitosari mengenai Wisata Gunungkidul Yogyakarta, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca semua. Terimakasih, Salam Budaya.

10 Responses to "Gunungkidul: Nature Paradise Or Culture Paradise?"

  1. Reccomended nih untuk dibaca. Melalu artikel ini telah dituliskan deskripsi singkat mengenai wisata yang ada di Gunungkidul. Tak hanya wisata alam namun juga wisata budaya dan buatan yang perlu kalian ketahui. Terimakasih Anggita telah menuliskan artikel ini, dari sini kalian akan tahu lebih banyak dari sedikit yang kalian tahu. Lanjutkan!!!

    BalasHapus
  2. Terimakasih tulisannya kak sangat membantu dan menambah pengetahuan tentang macam2 wisata

    BalasHapus
  3. mantaap ini artikel ..
    jadi pengen berwisata hehe ..

    BalasHapus
  4. Geografi sekalee, bisa untuk referensi. Mantull

    BalasHapus
  5. Bermanfaat sekali, terimakasih telah membuat tulisan ini

    BalasHapus
  6. Bermanfaat sekali,terimakasih kak

    BalasHapus
  7. Tulisan ini membantu sekali untuk menentukan destinasi wisata di Gunungkidul

    BalasHapus
  8. Tulisan ini bagus mudah dipahami oleh orang yang berbeda rumpun, penggunaan bahasanya sangat soft dan rapi��

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel