Wisata Hukum Pancung di Danau Toba

Wisata berbasis budaya adalah salah satu jenis kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai objeknya. Pariwisata jenis ini dibedakan dari minat-minat khusus lain, seperti wisata alam, dan wisata petualangan.

Adat, seni, dan budaya Danau Toba sebagai potensi dasar yang dominan di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dan kebudayaan. Kedua unsur itu, saling meningkat secara serasi, selaras, dan seimbang sehingga penyelenggaraan pariwisata budaya sekaligus untuk memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan, dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata.

Upaya itu sekaligus mempertahankan norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan agama dan kehidupan alam danau toba yang berwawasan lingkungan hidup.

Danau toba sebagai danau terbesar di asia tenggara memang memiliki keindahan luar biasa. Apalagi ditengah-tengah nya ada pulau kecil yang bernama pulau Samosir. Didalam pulau ada pulau, begitulah kira-kira.

Dipinggiran danau toba juga ada terdapat berbagai pantai yang sanggup memanjakan mata. Ada yang lebih luar biasa lagi,  Di puncak pulau samosir terdapat juga sebuah danau, yang diberi nama danau Sidehoni. Luar biasa bukan? Karena keindahannya pemerintah kabupaten samosir layak menamai daerahnya sebagai negri indah kepingan surga.

Mangalahat Horbo


Tapi danau toba bukan hanya sebatas itu, disana juga memiliki kultur dan budaya yang begitu unik untuk dinikmati. Ada ritual mangalahat horbo, sipaha sada, sipaha lima dan gondang mandudu dimana kebudayan ini sudah hampir hilang.

Pada Festival Danau Toba tahun 2013 diadakan sebuah acara Mangalahat Horbo, digelar di Tuk-tuk siadong Samosir. Mangalahat Horbo Bius adalah tradisi tua milik orang Batak Toba merupakan perayaan kurban kerbau kepada Mula Jadi Na Bolon yang merupakan pencipta segala sesuatu. Upacara Mangalahat Horbo Bius itu dilakukan untuk mengawali, atau pembukaan sebelum orang Batak turun ke sawah. Ada upacara seperti tadi kita saksikan. Untuk kesuburan tanah, perkembangbiakan ternak, dan juga untuk kesejahteraan manusia atau dalam bahasa bataknya sinur na pinahan, gabe naniula, dan horas jolma.

Ritual acara Mangalahat Horbo ini memang benar-benar dilaksanakan seperti pada zaman dahulu kala. Diiringi Gondang Batak, horbo (kerbau) pada malam sebelum upacara sudah dikandangkan di sekitar arena upacara, ditarik enam pria. Sebelumnya, bagian mulut kerbau sudah diikat lalu disambungkan dengan sebuah kayu bulat, untuk memudahkan penarikan ke tengah arena upacara. 

Dari belakang, rombongan raja-raja mengikuti arak-arakan horbo oleh keenam penarik kerbau dengan mengelilingi tiang tambatan atau kayu borotan sebanyak tujuh kali. 

Setelah itu, barulah kerbau ditambatkan di kayu borotan ini. Tak lama kemudian, seorang dari rombongan para raja yang membawa tombak meminta izin kepada pemimpin upacara untuk menombak kerbau yang sudah diikatkan di tiang borotan atau tiang tambatan. Setelah ditombak beberapa kali, kerbau itu kemudian dijerat dengan tali untuk memastikan hewan itu mati.

Rumah Adat Huta Siallagan

Wisata berbasis budaya sudah banyak diterapkan di Indonesia. Kita perlu berkaca ke tempat wisata lainnya di Indonesia. Contohnya bali, budaya bali tetap hidup dan justru itulah menjadi salah satu penarik wisatawan mancanegara yang akan berkunjung. Para wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam yang ada di bali tetapi juga menikmati ritual budaya yang ada. Seperti bola api, kesenian barong dan tari kecak.

Didanau toba sendiri, sebenarnya sudah ada beberapa di tempat wisata yang mengharuskan pengunjungnya memakai pakaian adat batak seperti ulos jika berkunjung ke tempat tersebut. Huta Siallagan contohnya. Disana kita akan diceritakan mengenai batu persidangan yang mana dulu setiap warga yang melanggar aturan akan disidang dan jika terbukti bersalah maka kepalanya akan dipotong dan dibuat sebagai penjaga kampung. Disitu kita akan diajak menikmati tor-tor bersama sigale gale dan penjelasan mengenai rumah adat batak.

Didalam huta siallagan ada rumah adat batak sebai pertanda budaya batak. Dalam rumah adat batak ini akan dijelaskan filosofi yang terkandung dalam rumah adat tersebut.Didalam rumah adat batak ujung ajap yang didepan dan yang dibelakang berbeda tingginya. Dan akan selalu menghadap ke danau. Artinya adalah bahawa orangtua batak mengharapkan anak anaknya lebih tinggi pendidikannya dari pada orangtuanya. 

Dalam filosofi batak pun ada disebutkan bahwa anakkon hi dohamoraon di au. Bahwa anak kita itulah harta yang paling berharga dalam hidup kita ini. Jadi harus beroleh pendidikan setinggi-tingginya. Konsep Rumah Batak yang dibangun memiliki keunikan tersendiri dan setiap bangunan yang di ukir pasti memiliki makna tersendiri. Bentuk pintu masuk yang rendah memiliki arti sendiri yaitu tamu harus menghormati tuan rumah dan mengikuti peraturan yang ada di dalam rumah.

Cicak merupakan lambang dari orang Batak. Hampir diseluruh rumah orang batak pasti terdapat cicak baik itu di rumah dengan ukuran kecil, sedang, sampai besar. Orang batak sering di sebut sama seperti cicak dimanapun dia berada baik itu di perkampungan maupun perkotaan orang Batak dapat beradaptasi walaupun hidup yang di hadapi itu sangat lah keras, namun orang batak masih dapat bertahan hidup.

Selain simbol cicak, di depan rumah adat batak ada juga simbol payudara. Payudara sebagai lambang kesuburan. Kesuburan yang dimaksud adalah banyak anak banyak rejeki. Maka tidak heran jika orang batak dulu memiliki 12 orang bersaudara. Hal itulah sebagai perwujudan lambang kesuburan.
Selanjutnya adalah warna. Dalam rumah adat batak hanya ada tiga warna yaitu  hitam, merah dan putih. Ketiga warna tersebut juga mempunyai makna dan simbolisme khusus menurut kepercayaan religi Batak kuno, yaitu:
  • Putih sebagai perlambang kesucian, kebenaran, kejujuran dan ketulusan (sohaliapan, sohapurpuran) juga simbol kosmologi Banua Ginjang (dunia atas)
  • Merah sebagai perlambang kekuatan (hagogoon) dan keberanian, simbol Banua Tonga (dunia tengah).
  • Hitam sebagai perlambang kerahasiaan (hahomion), kewibawaan dan kepemimpinan, simbol Banua Toru (dunia bawah)
Batu Kursi

Setelah dari rumah adat kita akan dibawa menuju batu kursi. Dalam batu kursi itu akan diceritakan bahwa pengadilan di Huta Siallagan sudah berlangsung sejak dahulu. Batu kursi ini berupa kursi-kursi dari batu yang dipahat mengelilingi sebuah meja yang juga terbuat dari batu.

Batu kursi ini juga disebut sebagai batu persidangan. Dahulu kala tempat ini digunakan untuk mengadili para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Di sini raja dan petinggi adat akan rapat menentukan hukuman bagi penjahat atau pelanggar hukum.

Batu kursi ini terdiri dari kursi Raja dan permaisuri, kursi Para Tetua Adat, kursi Raja dari Huta/kampung tetangga dan para undangan, juga Datu/Pemilik Ilmu Kebathinan. Ditempat inilah diputuskan dan ditetapkan peraturan “pemerintahan, kemasyarakatan” dan hukum yang tegas bagi yang melanggarnya. Artinya Raja Huta Siallagan tidaklah melakukan sesuatu dengan dasar “kekuasaan” semata, tetapi dilakukan secara musyawarah, mendengarkan pendapat dan usul serta pertimbangan dari para tetua adat yang diundang hadir untuk kemudian menetapkan keputusan secara jujur, adil dan bijaksana.

Selain sosialisasi peraturan hukum adat-istiadat, batu kursi ini juga dipergunakan untuk menetapkan hukuman bagi orang-orang yang melakukan tindakan kriminal (pembunuhan, pencurian), pelecehan/pemerkosaan dan sebagainya.

Setelah melalui proses investigasi, interogasi kepada terdakwa, maka Para Pengetua Adat dan Raja dari huta tetangga memberikan usul jenis hukuman yang harus diiberikan kepada terdakwa dan oleh Raja Siallagan (dikenal sebagai Raja yang adil dan tegas) ditetapkan menurut peraturan “kerajaan” Siallagan yakni Hukuman Denda, Hukum Penjara (dihukum pasung) dan Hukum Mati (hukum pancung/dibunuh). 

Hukum denda biasanya bagi seseorang yang melakukan kesalahan ; Hukum Penjara ditetapkan bagi seseorang yang melakukan kejahatan ringan seperti berkelahi, memfitnah; sedang Hukum Mati (dipancung) merupakan hukuman yang ditetapkan bagi seseorang yang berbuat kejahatan berat seperti Pembunuh, Pemerkosa.

Jika kejahatannya kecil, maka akan diberikan sangsi berupa hukuman denda atau pasung. Hukum denda, mengganti sebesar 4 kali lipat dari yang kejahatan dilakukannya. Contoh jika tersangka terbukti mencuri seekor kerbau maka hukuman yang diberikan adalah mengganti kerbau sebanyka 4 ekor kerbau.

Namun jika kejahatannya tergolong kejahatan berat maka pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala. Untuk melaksanakan hukuman pancung, maka penjahat tersebut dibawa ke batu persidangan yang ada di bagian belakang. Di sana sang pelaku akan dibaringkan dan dipenggal dalam satu kali tebasan.


Batu persidangan, ini terletak dibagian luar dari huta Siallagan namun masih sekitar huta. Disini terdapat juga Kursi untuk Raja, para Penasehat Raja dan tokoh adat, termasuk masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati. Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos, Raja dan para penasehat raja serta masyarakat telah berkumpul, kemudian penjahat ditempatkan diatas meja batu besar, bajunya ditanggalkan.

Sebelum eksekusi dilaksanakan, atas perintah Raja, Eksekutor yang juga Datu (memiliki ilmu gaib) menanyakan keinginan permintaan terakhir dari sang penjahat. Bila tidak ada lagi, selanjutnya eksekutor menanggalkan semua pakaian dari tubuh penjahat dan mengikat tangannya ke belakang. Menurut yang empunya cerita, ditanggalkannya pakaian penjahat adalah untuk mengetahui dan menghilangkan bilamana kekuatan gaib yang dimiliki oleh penjahat. 

Kemudian tubuh penjahat disayat dengan pisau tajam, sampai darah keluar dari tubuhnya. Bila sang penjahat yang disayat tidak juga mengeluarkan darah, maka penjahat dibuat telanjang dan diletakkan diatas meja batu, kemudian disayat-sayat kembali bahkan air jeruk purut diteteskan kedalam luka sayatan, sehingga eksekutor yakin sang penjahat tidak lagi memiliki kekuatan gaib di tubuhnya. Eksekutor harus memastikan bahwa sang penjahat sungguh-sungguh tidak memiliki kekuatan apapun, jauh dari segala sesuatu yang berbau kekuatan magis.

Selanjutnya tubuh sang penjahat diangkat dan diletakkan ke atas batu pancungan telungkup dengan posisi leher persis berada disisi batu, sehingga kelak bila dilakukan eksekusi, sekali tebas kepala terpisah dari tubuhnya.

Selanjutnya Sang Datu, dengan membacakan mantra-mantra kemudian mengambil pedang yang sudah tersedia, dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk mengetahui apakah benar penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu “Tunggal Panaluan” ke jantung penjahat

Beberapa waktu kemudian zaman kegelapan berakhir, hingga masuknya agama Kristen ke tanah Batak, penerapan hukuman pancung seperti diceritakan tidak lagi dilaksanakan bahkan sudah dihapuskan termasuk ilmu-ilmu gaib/kebathinan semakin ditinggalkan, karena masyarakat sudah memeluk Agama, dan bila terjadi kejahatan dan kriminal, selain mempergunakan hukum adat juga dipergunakan hukum Negara (hukum pidana, hukum perdata)

Syukurnya praktek seperti itu sudah tidak dilakukan lagi saat ini. Dan Batu Kursi Siallagan ini pun menjadi salah satu objek wisata bersejarah di Pulau Samosir. Setiap kali kita berwisata ke Huta Siallagan maka kita akan diceritakan dengan sejarah batu persidangan dan hukum pancung di kampung tersebut. 

Penasaran dengan hukum pancung di danau toba ? ayolah ke Huta Siallagan. Berkunjung ke danau toba maka kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang begitu indah berikut juga dengan kebudayaan yang penuh dengan filosofis. 

Itulah artikel yang ditulis oleh Parno  S. Mahulae dengan judul "Wisata Hukum Pancung di Danau Toba". Semoga bisa bermanfaat bagi segenap pembaca. Trimakasih, 

5 Responses to "Wisata Hukum Pancung di Danau Toba"

  1. alasannya sangat menarik dan komprehensif, sisi ini begitu penting untuk diwariskan kepada generasi muda. Horasss

    BalasHapus
  2. Semoga mencerahkan bagi generasi muda.

    BalasHapus
  3. Org batak terkenal dgn bnyk pengacara, krn dr zaman leluhur, sudah dikenalkan dgn keadilan dalam penegakan hukum.akan tetapi hukuman pancung itu, biarlah hnya tradisi lama.

    BalasHapus
  4. Tulisan yg sangat luar biasa. Sangat menarik. Ternyata pada zaman nenek dan kakek moyang kita suku batak, hukuman bagi yg melakukan kejahatan sangatlah tegas. Semoga generasi muda suku batak makin banyak yg peduli dan tidak lupa sejarah suku batak ditanah kelahirannya. 👍👍👍👍

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel