Keunikan Wisata Edukasi "Ngudek Jenang" di Blitar

Beberapa tahun terakhir ini, wisata digenjot habis-habisan oleh pemerintah hingga ke ranah terkecil yakni desa. Tempat wisata baru bermunculan seiring perkembangan kebiasaan masyarakatnya. Jika dulu banyak orang menganggap wisata sebagai hal mewah, namun tidak dengan zaman sekarang di era milenial.

Masyarakat khususnya anak muda berlomba-lomba travelling ke berbagai penjuru baik di dalam maupun luar negeri. Biar terlihat keren, menarik diunggah di media sosial atau beragam alasan lainnya. Persepsi seperti ini harusnya dimanfaatkan sebagai peluang besar untuk mendongkrak pendapatan daerah.

Bagi daerah yang sungguh berniat memajukan wilayahnya tentu sudah mulai berbenah. Wajah daerahnya mulai disulap, berusaha bersaing mendapatkan wisatawan lokal maupun asing. Tempat-tempat wisata baru bermunculan bak jamur di musim penghujan, sangat banyak.

Hingga orang berbondong-bondong menjajal keindahan dan keunikan yang dimiliki daerah tujuan wisatanya. Tren seperti ini tak hanya menjangkit masyarakat perkotaan, orang-orang desa sekitar saya pun tak luput terkena virus jalan-jalan. Perkembangan menarik dalam masyarakat terjadi.

Dulu kalau orang ingin wisata ke Blitar tujuan pertama pastilah ke kompleks makam Bung Karno. Namun sekarang tidak hanya itu saja, karena banyak tempat wisata baru terlahir. Di sekitar daerah tempat tinggal saya juga mengalami perubahan. Meski saya tinggal di desa ternyata tak menyurutkan masyarakat untuk ikut memajukan desanya.

Beberapa lokasi wisata baru diantaranya Kampung Coklat, Wisata "Ngudek Jenang", Bukit Bunda, Bukit Bonsai. Tempat yang paling menarik untuk dibahas yaitu Wisata "Ngudek Jenang."

Lokasi

Bertempat di Jl. Masjid Utara No. 46, Yosowinangun, Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Jika dari Kota Blitar perjalanan bisa ditempuh sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit.

Lumayan dekat dari wilayah kota. Jalanan menuju ke lokasi ini juga mudah sudah beraspal semua. Tentu perihal jalan semakin menambah minat wisatawan datang ke kawasan ini. Beruntungnya bila berkunjung ke sini, diantara lokasi wisata lain tempatnya saling berdekatan, tidak terlalu jauh jaraknya. Menarik bukan.

Desa Rejowinangun sudah beberapa tahun ini digadang pemerintah sebagai Desa UKM (Usaha Kecil Menengah).

Sangat pas sebutan itu, karena memang di desa inilah tumbuh banyak sekali para pelaku usaha kecil dan menengah. Bisa dilihat sepanjang jalan, di depan rumah banyak dijumpai plakat nama usahanya dan mayoritas usaha di bidang makanan.

Asal Kata

Dari segi bahasa, jika membaca istilah "Ngudek Jenang" pasti banyak yang bertanya, apa ini artinya? Dua kata tersebut diambil dari bahasa Jawa, ngudek artinya mengaduk. Sedangkan jenang ialah makanan khas Jawa Timur yang biasanya ditemukan saat ada hajatan seperti pernikahan atau acara lain.

Tekstur jenang kenyal, lengket mirip dodol yang berasal dari Jawa Barat atau Jawa Tengah. Rasanya manis legit akan membuat lidah ketagihan mencobanya.

Keunikan Budaya

Dulunya tempat ini hanya produksi jenang dengan nama merek "Kelapa Sari" buatan Haji Nyoto, selain itu juga menyediakan oleh-oleh lain khas Blitar. Kemudian baru setelah turun ke generasi kedua, di tangan putri dan menantunya dibuka juga sebagai wisata edukasi bernama "Omah Jenang".

Jadi jangan heran apabila sudah di sini ditemui dua nama itu, "Kelapa Sari" dan "Omah Jenang".
Dari sisi nama tentu wisata edukasi ini menyuguhkan pengalaman berbeda dengan wisata lain. Kita bisa langsung belajar bagaimana proses pembuatan jenang yang ternyata butuh beberapa tahapan.

Dan yang paling membutuhkan fisik yang kuat ialah saat proses memasak, mengaduk dalam wajan besar diletakkan di atas panasnya tungku api. Jangan dikira proses ini gampang seperti waktu menggoreng kerupuk, pengadukan ini terbilang berat karena bahan yang awalnya mentah berubah jadi lengket, kenyal dan perlu diaduk secara rutin biar hasilnya maksimal enak.

Biasanya yang melakukan pekerjaan ini adalah para lelaki yang kemampuan fisiknya lebih kuat dibandingkan wanita.

Pemilik wisata juga akan berbagi ilmunya mengenai proses pemasaran hingga ke level menajemen. Produk yang dihasilkan dari wisata ini tidak hanya jenang, ada variasi lain seperti wajik dan madu mongso. Sama-sama legit dan jajanan khas desa, namun beda tekstur dan asal bahan pembuatannya.

Pemasarannya bahkan sudah mencapai luar Jawa Timur, biasanya kerja sama dengan pemilik toko oleh-oleh, atau tempat wisata lain.

Bagi yang suka jajan tidak perlu khawatir, di sini terdapat beragam jajanan asli Blitar dan daerah sekitar seperti Tulungagung, Trenggalek. Letak etalase aneka jajanan itu berada di paling depan. Ketika memasuki gerbang tentu mata pengunjung akan disuguhi macam-macam makanan, melihatnya bagai pelangi, sedap dipandang.

Jika melihat tempat wisata "Ngudek Jenang", sudah pasti bisa dikategorikan menjadi wisata budaya. Alasannya bila mengacu pada tujuh unsur budaya yang dipaparkan oleh Koentjaraningrat, hampir semua unsur bisa didapatkan di sini. Diataranya yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan atau organisasi, sistem peralatan hidup dan teknologi dan sistem mata pencaharian.

Sungguh menarik, terlebih jika kita datang bersama anak-anak, mereka akan mempelajari budaya asli masyarakat Jawa, yang akan terekam terus dalam ingatan otaknya.

Harapannya wisata budaya semacam ini terus bertumbuh kuat di tengah persaiangan ketat dengan wisata lain yang mengusung latar atau konsep budaya negara lain. Semoga bisa menjadi wisata primadona di negeri sendiri.

Itulah tadi artikel dengn judul "Keunikan Wisata Edukasi "Ngudek Jenang" di Blitar" yang ditulis serta disajikan dengan apik oleh Karis Rosida. Semoga bermanfaat bagi segenap pembaca semuanya, trimakasih.

2 Responses to "Keunikan Wisata Edukasi "Ngudek Jenang" di Blitar"

  1. Mau dong kak ditemenin kesini, hehe. Saya orang asli blitar sih, tapi bisa dikatakan buta map saking jarangnya diblitar

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel